TEGAS! Bupati Bogor Ade Yasin Tolak Kereta Gantung di Kawasan Puncak

Tegas Bupati Bogor menolak dibangunnya cable car atau kereta gantung di kawasan Puncak Kabupaten Bogor lantaran bukan alat transportasi

TEGAS! Bupati Bogor Ade Yasin Tolak Kereta Gantung di Kawasan Puncak
Bupati Bogor Ade Yasin dengan tegas menolak pembangunan cable car atau kereta gantung di kawasan Puncak.

INILAHKORAN, Bogor - Wacana pembangunan cable car atau kereta gantung oleh Badan Pengelola Transportaso Jabodetabek (BPTJ) dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Solahudin Uno ditolak Bupati Bogir Ade Yasin.

Bupati Bogor Ade Yasin  pun tegas menolak wacana pembangunan cable car atau kereta gantung tersebut karena dianggap bukan merupakan solusi kemacetan lalu lintas di Kawasan Puncak.

"Cable car atau kereta gantung hanyalah objek wisata, dan bukan solusi permasalahan kemacetan lalu lintas karena tidak digunakan orang yang ingin pergi ke Kabupaten Cianjur, Kota Bandung dan sekitarnya," kata Bupati Bogor Ade Yasin kepada wartawan, Senin 22 Maret 2022.

Baca Juga: Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Badan, Buya Yahya: Jangan Dijadikan Beban Pernikahan!

Bupati Bogor Ade Yasin menjelaskan, besar anggaran pembangunan cable car atau kereta gantung yang bisa menelan biaya hingga Rp 7 triliun juga terlalu mahal, ia pun lebih memilih pembangunan Jalan Poros Tengah Timur (PTT) atau Puncak II.

"Ketimbang bangun cable car, mending bangun Jalan PTT atau Puncak II yang menghubungkan Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor dengan Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, dimana biayanya bisa kurang dari Rp 1 triliun," jelasnya.

Diwawancara terpisah, Direktur Prasarana BPTJ  Jumardi menuturkan bahwa cable car atau kereta gantung merupakan bagian dari upaya mengurangi beban kemacetan lalulintas.

"Cable car atau kereta gantung, selain mempertimbangkan karakteristik kebutuhan juga sebagai  penarik perhatian investor untuk mendanai proyek tersebut" tutur Jumardi.

Baca Juga: Pesawat China Eastern Airlines Jatuh, Saham Boeing Langsung Terjun Bebas

Ia menambahkan bahwa BPTJ juga merekomendasikan bentuk moda transportasi berbasis rel yang paling memungkinkan untuk dibangun di puncak adalah kombinasi antara Kereta AGT  (Automated Guideway Transit) atau Light Rail Transit (LRT)

"Kereta AGT atau LRT yang lintasan angkutannya berbasis rel tersebut nantinya memiliki keseluruhan panjang27,88 km dengan terbagi dalam 2 segmen.  Jadi wisatawan yang akan ke Kawasan Puncak sudah dapat mengakses moda transportasi massal berbasis rel untuk menghindari kemacetan lalu lintas," tambahnya. (Reza Zurifwan)


Editor : inilahkoran