BPBD Jabar Catat 14 Kejadian Karhutla Sejak Mei 2026, Pembakaran Sampah Jadi Sorotan

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menghantui sejumlah wilayah di Jawa Barat, seiring menguatnya musim kemarau. 

BPBD Jabar Catat 14 Kejadian Karhutla Sejak Mei 2026, Pembakaran Sampah Jadi Sorotan
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai menghantui sejumlah wilayah di Jawa Barat, seiring menguatnya musim kemarau. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat, sedikitnya 14 kejadian karhutla telah terjadi sejak Mei 2026, menandai meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

Meski jumlah kejadian masih tergolong terbatas, BPBD Jabar menilai kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan kebakaran lahan dapat meluas, dengan cepat ketika cuaca kering berkepanjangan bertemu dengan aktivitas manusia yang kurang memperhatikan aspek keselamatan lingkungan.

Pranata Humas Ahli BPBD Jabar, Hadi Rahmat mengatakan, seluruh kejadian yang tercatat sejauh ini tersebar di sejumlah kabupaten dan kota yang mulai mengalami penurunan kelembapan lahan.

"Kalau kebakaran hutan yang kita terima sih sampai sekarang, ini ada 14 kejadian ya yang kita sudah terima," kata Hadi saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Kamis (9/7/2026).

Menurutnya, kejadian tersebut terjadi di Kabupaten Sumedang, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sukabumi, Purwakarta, Subang, hingga Kota Bandung.

Data tersebut menunjukkan, ancaman karhutla tidak hanya terjadi di wilayah hutan yang luas, tetapi juga mulai muncul di kawasan yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat. Sebab itu, BPBD Jabar menilai upaya pencegahan harus menjadi prioritas sebelum kebakaran berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Hadi menjelaskan, laporan kebakaran mulai berdatangan sejak memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni 2026. Sebelumnya, BPBD belum menerima laporan kejadian serupa.

"Kalau saya sih melihat ini sebenarnya dari bulan Mei ya. Karena sebelum bulan Mei tidak ada tuh kejadian kebakaran. Mei-Juni lah. Sebelum bulan Mei itu tidak ada kejadian kebakaran," ujarnya.

Ia menyoroti masih adanya kebiasaan masyarakat yang membakar sampah di lahan terbuka. Praktik tersebut dinilai menjadi salah satu pemicu utama terjadinya kebakaran lahan, terutama saat vegetasi mengering akibat minimnya curah hujan.

"Kita juga berharap masyarakat, dalam hal di kondisi lapangan itu kita menjaga ya kondisi kondusifitas kaitan dengan pemanfaatan lahan. Ini juga penting gitu karena sekarang ini sudah mulai terjadi di beberapa wilayah kebakaran lahan," tuturnya.

Ia menegaskan, pembakaran sampah di area terbuka harus dihindari karena berpotensi memicu api menjalar ke lahan milik warga maupun kawasan yang lebih luas.

"Sehingga perlu diantisipasi, misalnya jangan membakar sampah di lahan-lahan terbuka. Itu juga penting menghindari kebakaran di lahan-lahan yang terbuka yang berdekatan dengan lahan masyarakat yang menyebabkan kebakaran lahan gitu ya," katanya.

Selain pembakaran sampah, BPBD Jabar juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan yang dapat memicu munculnya titik api.

"Buang sampah juga jangan sembarangan gitu dan selalu saling berkomunikasi," ujarnya.

Di tengah meningkatnya ancaman karhutla dan kekeringan, BPBD Jawa Barat meminta masyarakat tidak menunggu hingga kebakaran meluas untuk melapor. Pelaporan dini dinilai menjadi faktor penting agar petugas dapat melakukan respons cepat dan mencegah dampak yang lebih besar.

"Dan memang yang kita imbau kalau misalnya memang terjadi, bisa juga masyarakat melaporkan ya ke BPBD setempat untuk kita lakukan respons cepat terkait dengan kejadian, baik kekeringan ataupun kebakaran hutan dan lahan," tandasnya.***


Editor : JakaPermana