BPBD Jabar Targetkan Susur Sesar Lembang Rampung Oktober Ini, Pemetaan Ulang Mitigasi Potensi Bencana Gempa

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat menargetkan susur Sesar Lembang rampung pada Oktober 2025 ini.

BPBD Jabar Targetkan Susur Sesar Lembang Rampung Oktober Ini, Pemetaan Ulang Mitigasi Potensi Bencana Gempa

INILAHKORAN, Bandung - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat menargetkan susur sesar lembang rampung pada Oktober 2025 ini.

Kepala Pelaksanan (Kalak) BPBD Jabar Teten Ali Mulku Engkun menuturkan, pihaknya tengah melakukan pembaruan terhadap rencana kontinjensi kajian risiko bencana.

Dimana menurutnya, dari data terakhir 2019 pasti terjadi perubahan akibat adanya pergerakan Sesar Lembang. Pemetaan ulang ini dilakukan, untuk memitigasi potensi bencana gempa di Bandung Raya.

"Jalur evakuasi, segalanya kita update nih. Mungkin bulan ini kita akan coba susur Sesar Lembang. Ngecek lagi, titik kumpul evakuasinya tadi di mana, apakah masih relevan enggak," ujar Teten di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu 3 September 2025.

Susur Sesar Lembang ini lanjut dia, akan melibatkan multistakeholders. Termasuk nantinya dengan dilakukan sosialisasi Desa Tangguh Bencana, Kelurahan Tangguh Bencana hingga kabupaten/kota.

"Tapi sekali lagi, hari ini itu ada dua yang penting. Ketika terjadi gempa kecil, biasanya itu pelepasan energi, itu aman jadi masyarakat jangan panik, yang penting masyarakat tahu jalur evakuasi seperti apa. Kemudian, bila terjadi gempa, tahu apa yang harus dilakukan," ucapnya.

Kembali mengenai rencana susur Sesar Lembang, Teten menargetkan pemetaannya bisa rampung Oktober ini. Meski diakuinya tidak mudah, karena harus menyusuri dari awal sampai akhir Sesar Lembang yang sepanjang 29 kilometer.

"Melibatkan seluruh relawan, dicek ada perubahan atau tidak. In Syaa Allah Oktober sudah beres untuk draft kasar. Ini lumayan, soalnya enggak bisa dari Google Earth. Semua digambarin detail. Kalau epsentrumnya di sini, maka kerusakan dimana, nah itu digambarin detail," kata dia.

Setelah rampung, baru simulasi kebencanaan dilakukan, untuk membiasakan masyarakat dan bisa melakukan tindakan yang sesuai, ketika bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang terjadi.
 
"Misal, Linmas fungsinya apa. RT-nya apa. Nah itu, yang karena hasil penelitian di Jepang bahwa keselamatan terhadap bencana itu yang faktor menentukan, sangat menentukan keselamatan itu dari lingkungan terkecil," ucapnya.

Sementara terkait Atlas Siaga Sesar Lembang (ASSL), Teten menerangkan bahwa itu merupakan untuk pembaruan penamaan. Misalnya yang lokasi cekungan, dinamakan apa. Itu juga bagian dari strategi. Jadi itu istilahnya penamaan rupa muka bumi," tandasnya. (Yuliantono)


Editor : Ahmad Sayuti