Buang Stigma Tutup Lubang

KETIKA koperasi beralih fokus menjadi motor penggerak sektor riil, dampaknya langsung menyentuh kehidupan nyata para anggotanya.

Buang Stigma Tutup Lubang
KOPERASI: Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan koperasi tidak boleh hanya menjadi tempat masyarakat meminjam uang, tetapi harus mampu menjadi wadah untuk membangun kekuatan ekonomi anggotanya.

Bayangkan denyut ekonomi itu benar-benar hidup di sebuah koperasi unit desa. Deru mesin jahit bersahut-sahutan dengan tawa para ibu yang sedang melipat kain batik.

Di sudut lain, seorang pemuda sibuk memantau grafik penjualan kopi lokalnya ke pasar digital lewat komputer inventaris koperasi.

Pemandangan hidup seperti inilah yang memenuhi benak Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono. Bagi dia, Koperasi seharusnya tidak lagi identik dengan ruang sunyi tempat orang datang membawa wajah muram, mengantre giliran untuk berutang, lalu pulang membawa beban cicilan bulanan.

Lebih dari sekadar tempat meminjam uang, koperasi menyimpan impian besar: menjadi jantung penggerak kesejahteraan bersama yang adaptif dan modern.

Saat berkunjung ke Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Balo’ta, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Minggu (30/8) Ferry mengatakan koperasi harus memberikan manfaat yang lebih luas kepada anggota.

Dia ingin, koperasi mulai dari menyediakan akses pembiayaan, meningkatkan kapasitas usaha, memperluas pasar, meningkatkan produktivitas, hingga menciptakan nilai tambah.

Menurut dia, KSP Balo’ta telah menunjukkan praktik tersebut melalui kegiatan pembinaan kepada anggota, termasuk para petani, serta pengembangan perkebunan percontohan kopi.

“Kita tidak boleh puas hanya membuat petani mendapatkan pinjaman. Kita harus membuat petani semakin produktif, semakin sejahtera, dan semakin memiliki posisi tawar,” katanya dalam siaran pers kementerian.

Ferry menilai kegiatan tersebut perlu terus diperkuat agar koperasi benar-benar menjadi penggerak ekonomi kerakyatan dan tidak berhenti pada aktivitas simpan pinjam.

Meski begitu, Ferry juga menyatakan dukungannya terhadap pengembangan KSP Balo’ta yang selama ini menjalankan kegiatan simpan pinjam sekaligus membina anggotanya.

Sementara itu, Ketua KSP Balo’ta Dedi Bongga mengatakan aset koperasi telah mencapai Rp1,9 triliun per Juli 2026, atau meningkat 609 persen dibandingkan 2014.

Ia menyebut KSP Balo’ta saat ini memiliki sekitar 15 ribu anggota yang mendapatkan layanan koperasi.

Dedi mengatakan koperasinya juga telah mendapatkan dukungan pembiayaan modal kerja dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi secara bertahap selama sekitar 10 tahun, dengan total pemberian pembiayaan sekitar 10 kali.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Toraja Utara Frederik Viktor Palimbong melaporkan bahwa Toraja Utara memiliki sekitar 49 koperasi aktif setelah pemekaran.

Pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang telah rampung 100 persen mencapai 19 unit, sedangkan empat unit lainnya masih dalam proses konstruksi dengan progres 60 hingga 90 persen. Dari target 151 KDKMP, pemerintah daerah diminta untuk mengawal pembangunannya secara optimal.

Hasil Magang Di sisi lain, Kemenkop meminta pengurus Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) segera menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti program magang di koperasi di daerah masing-masing.

Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop Destry Anna Sari mengatakan keberhasilan program magang tidak hanya diukur dari kehadiran peserta selama delapan hari, tetapi dari langkah nyata yang dilakukan setelah mereka kembali ke daerah.

“Para peserta membawa bekal pembelajaran nyata mengenai pengelolaan koperasi yang profesional, produktif, dan berkelanjutan untuk diterapkan di daerah masing-masing,” kata Destry.

Sebanyak 54 pengurus KDKMP dari 31 provinsi mengikuti program magang di Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sunan Drajat di Lamongan pada 23-30 Agustus 2026.

Peserta merupakan pengurus yang telah mendapatkan sertifikat pelatihan perkoperasian melalui learning management system (LMS) maupun pelatihan dasar perkoperasian lainnya.

Program magang juga dilaksanakan di Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al-Ittifaq, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang diikuti 36 pengurus KDKMP di sektor pertanian.

Menurut Destry, penguatan KDKMP perlu dimulai dari pengurus yang kompeten, adaptif, dan memiliki semangat kewirausahaan.

Selama magang, peserta tidak hanya memperoleh pembekalan materi, tetapi juga mengikuti studi kunjungan dan praktik langsung. (bsf)


Editor : Inilahkoran