Bukan Sekedar Tren, Padel Jadi Gaya Hidup Baru di Bandung! Ini Alasannya

Di tengah hiruk pikuk Kota Bandung, sebuah fenomena baru tengah merekah, memikat hati banyak orang dari berbagai kalangan. Padel, olahraga raket yang sebelumnya mungkin asing di telinga sebagian besar masyarakat, kini menjelma menjadi primadona, tak hanya sekadar tren, tetapi juga gaya hidup yang menyehatkan.

Bukan Sekedar Tren, Padel Jadi Gaya Hidup Baru di Bandung! Ini Alasannya
Pehobi Padel Kota Bandung, Hartono Soekwanto tengah bermain Padel di Kota Bandung. (Poto/istimewa)

INILAHKORAN,- Di tengah hiruk pikuk Kota bandung, sebuah fenomena baru tengah merekah, memikat hati banyak orang dari berbagai kalangan. padel, olahraga raket yang sebelumnya mungkin asing di telinga sebagian besar masyarakat, kini menjelma menjadi primadona, tak hanya sekadar tren, tetapi juga gaya hidup yang menyehatkan. Dari tanah kelahirannya di Meksiko, hingga Spanyol, benua Eropa dan Amerika, gaung padel kini bergema kuat di Indonesia, khususnya di Kota Kembang ini.

Mengapa padel begitu digandrungi? Hartono Soekwanto, seorang pegiat padel di Kota bandung, punya jawabannya. Sembari berdiri di lapangan PadelPlush, Jalan Cihampelas, ia menjelaskan dengan antusias, "Perkembangan padel ini memang luar biasa karena memang mudah untuk dimainkan siapapun. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, sehingga olahraga ini sangat bagus buat rekreasi sehat bersama keluarga." Kemudahan akses ini menjadi daya tarik utama, memungkinkan siapa saja untuk merasakan kegembiraan bermain padel tanpa perlu keahlian khusus.

Meski sekilas mirip tenis, padel jauh lebih ramah bagi pemula. Hartono menuturkan bahwa ukuran lapangan padel yang lebih kecil, sekitar sepertiga dari lapangan tenis—dengan panjang standar internasional 20 meter dan lebar 10 meter—membuatnya lebih aman dan mudah dikuasai. Ini menjadi nilai plus, terutama bagi mereka yang sudah tak lagi muda. "Lantai lapangan padel pun lebih aman karena tidak sekeras lapangan tennis, apalagi sol untuk sepatu khusus padel lebih empuk dan ini lebih aman bagi mereka yang sudah berusia diatas 40 tahun karena biasanya suka bermasalah di persendian," jelas Hartono, menunjukkan betapa olahraga ini memperhatikan kenyamanan dan keamanan pemain.

Bagi Hartono sendiri, yang kini berusia 53 tahun, padel adalah jawaban. Setelah sebelumnya aktif di tenis bahkan sempat berkompetisi di turnamen master berpasangan dengan atlet ganda nasional Bonit Wiryawan, ia memutuskan beralih. "Kalau usia masih dibawah 40 tahun, kita masih bisa berlari mengejar bola di lapangan tennis. Tapi kalau sudah di usia seperti saya, ya sudah sulit untuk covering lapangan tennis dan padel akhirnya jadi pilihan saya berolahraga," ia menambahkan, menggambarkan bagaimana padel menawarkan alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi fisik.

Lebih dari sekadar meminimalkan risiko cedera, padel juga memberikan manfaat kesehatan yang luar biasa. "Tak hanya keluar keringat saja dan bikin badan lebih bugar, maen padel ini bisa stabilkan gula darah saya. Jadi olahraga ini bagus buat penderita diabetes. Tidak terlalu banyak lari, kardionya dapet banyak, dan tidak terlalu memaksa jantung kerja lebih keras," tutur Hartono, yang juga dikenal sebagai jawara kontes ikan koi sedunia dua kali berturut-turut di Jepang. padel menjadi solusi ideal bagi mereka yang ingin berolahraga efektif tanpa beban berlebihan pada tubuh.

Meski begitu, Hartono tak luput mengingatkan pentingnya persiapan. Pemanasan sebelum bermain padel adalah mutlak, terutama pada persendian tangan, siku, dan bahu. "Terutama dipersendian tangan, siku hingga bahu karena raket yang digunakan lebih berat dibanding raket tennis. Raket untuk pemula di olahraga tennis itu beratnya sekitar 225 sampai 260 gram, sedangkan di olahraga padel itu sekitar 335 sampai 355 gram dan itu hampir sama beratnya dengan raket yang digunakan atlet tennis profesional Novac Jokovic. Jadi kalau tidak hati-hati dan pemanasan lebih dulu sebelum bermain padel, resiko cedera siku atau otot sendi tangan bisa saja terjadi," jelasnya, menekankan perlunya kewaspadaan.

Selain persiapan fisik, kondisi lapangan juga krusial. Permukaan karpet lantai lapangan padel harus rata dan datar, bukan hanya untuk pantulan bola yang optimal, tetapi juga untuk meminimalisir cedera. "Jangan sampai karena sedang booming, pemilik lapangan padel hanya mengejar keuntungan tanpa memikirkan safety dari pemain. Lapangan PadelPlush ini saya lihat cukup baik dan bisa dibilang yang terbaik di Indonesia. Sesuai standar internasional, bahkan atapnya pun cukup tinggi mencapai 15 meter sehingga sirkulasi udaranya sangat baik," puji Hartono, menyoroti pentingnya fasilitas yang berkualitas.

Dengan akan diluncurkannya lapangan PadelPlush ini, Hartono optimis bahwa padel akan semakin meledak di Kota bandung, Jawa Barat, bahkan seluruh Indonesia. Ia melihat potensi besar tak hanya sebagai sarana rekreasi dan kesehatan, tetapi juga sebagai ajang melahirkan atlet padel potensial yang bisa berprestasi hingga kancah internasional.

"Jadi selain olahraga rekreasi keluarga, padel ini sudah diakui sebagai olahraga prestasi dan menjadi anggota KONI. Meski saat ini masih menjadi olahraga trend musiman, tapi saya yakin kedepan akan terjadi seleksi alam. Mana yang memang benar-benar serius menggeluti olahraga ini, mana yang hanya untuk ikut trend saja. Saya sendiri ingin serius, ikut dan menang di kejuaraan-kejuaraan untuk kalangan usia saya atau master seperti halnya di olahraga tennis, semoga saja induk organisasi padel di Indonesia bisa menghadirkan kejuaraan-kejuaraan untuk kami," tegas Hartono, memancarkan harapan akan masa depan cerah bagi olahraga padel di tanah air.


Editor : tantan