Bulan Suro: Keramat atau Penuh Malapetaka? Buya Yahya Ungkap Pandangan Islam
Menurut Buya Yahya, anggapan bahwa bulan Suro adalah bulan keramat penuh malapetaka tidak memiliki dasar dalam Islam.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Di sebagian masyarakat Jawa, terdapat kepercayaan bahwa Bulan Suro atau Muharram merupakan bulan Keramat yang rawan Malapetaka.
Anggapan ini memicu berbagai tradisi dan pantangan, seperti menghindari hajatan pernikahan, bepergian jauh, dan memulai usaha baru.
Namun, benarkah anggapan tersebut sesuai dengan ajaran Islam? Berikut penjelasan dari Buya Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon.
Menurut Buya Yahya, anggapan bahwa Bulan Suro adalah bulan Keramat penuh Malapetaka tidak memiliki dasar dalam Islam.
"Hari-hari dalam Islam itu semua baik, tidak ada hari sial. Hari yang sial itu hanya ketika kita bermaksiat kepada Allah," jelas Buya Yahya.
Lebih lanjut, Buya Yahya menegaskan bahwa bulan Muharram justru merupakan bulan yang dimuliakan dalam Islam.
Pada bulan inilah peristiwa penting seperti hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan pecahnya perang Badar terjadi.
Oleh karena itu, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk memanfaatkan bulan Muharram dengan memperbanyak ibadah dan amalan shaleh.***
Editor : Yosep Saepul Ramadan

