Bupati Bandung Kerahkan 18 Ribu ASN untuk Percepat Penurunan Stunting

Sosialisasi  percepatan penurunan stunting yang dipimpin Bupati Dadang Supriatna digelar  di Pontren Sa'adatuddaroin, Kecamatan Solokanjeruk belum lama ini.

Bupati Bandung Kerahkan 18 Ribu ASN untuk Percepat Penurunan Stunting
Bupati Bandung Dadang Supriatna

INILAHKORAN,Soreang- Untuk mempercepat penurunan angka stunting, Bupati Bandung Dadang Supriatna menginstruksikan agar para aparatur sipil negara (ASN)di lingkungan Pemkab Bandung untuk menjadi bapa atau ibu angkat dari anak pengidap stunting dan ibu hamil. 

Sosialisasi  percepatan stunting'>penurunan stunting yang dipimpin Bupati Dadang Supriatna digelar  di Pontren Sa'adatuddaroin, Kecamatan Solokanjeruk belum lama ini.

Bupati Dadang meminta kerjasama dari semua pihak terutama para kepala desa, menyangkut data yang dibutuhkan mengenai titik lokus by names by address di masing-masing desa.  Terkait kondisi anak stunting dan ibu hamil diwilayahnya masing-masing.

"Harus ada bapak angkat dan juga ibu angkat dari anak pengidap stunting maupun ibu hamil.  Maka kita akan bagi habis jumlah ASN kabupaten Bandung sebanyak 18 ribu ASN yang Insya Allah kita akan instruksikan untuk bisa menjadi ayah atau ibu angkat akan dalam rangka penanganan stunting," kata Dadang, Senin 27 November 2023.

Dikatakan Dadang, tidak menutup kemungkinan,  para kepala desa pun akan diminta untuk menjadi bapak angkat dalam menurunkan stunting

Saat ini upaya menurunkan prevalensi stunting di kabupaten Bandung terus diupayakan. Salah satunya dengan menambah anggaran stunting pada APBD 2024. Namun jika  anggaran dari APBD ini tidak mencukupi, harus ada solusi lain. 

“Intinya, kalau misalnya APBD kita sudah ketok palu dan ternyata tidak cukup,  saya meminta kesadaran kepada para ASN untuk menjadi bapak atau ibu angkat untuk memberikan gizi.Tapi titik sasarannya jelas,” ujarnya.

Dadang menyebutkan,  untuk menjadi bapak angkat ini perharinya diperlukan biaya sekitar Rp21 ribu selama 120 hari untuk ibu hamil. Sementara untuk yang bayi baru lahir sekitar Rp16.500 per hari selama 56 hari. 

"Nah nanti kita tawarkan kepada para ASN mau mengambil untuk ibu hamilnya atau bayi baru lahirnya untuk menjadi bapak atau ibu angkat," ujarnya.

Dadang optimistis jik langkah ini dilakukan,  angka stunting  di kabupaten Bandung ini akan segera turun.

 "Saya yakin dengan kerjasama kolaborasi angka stunting kabupaten Bandung akan selesai dengan baik," katanya.

Wacana ASN diangkat menjadi bapak atau ibu angkat digulirkan Bupati Dadang ini sangat penting.  Mengingat stunting'>penurunan stunting sebenarnya adalah kewajiban sosial masyarakat secara umum. Jika program ini berjalan, kemungkinan stunting'>penurunan stunting akan terus menurun, karena dilakukan gotong royong oleh semua pihak. 

Untuk diketahui, pada tahun 2021, prevalensi stunting di kabupaten Bandung mencapai 31 persen, pada tahun 2022 turun menjadi 25 persen. Bupati Bedas menargetkan, pada 2024 prevalensi stunting bisa ditekan lagi turun hingga 16 persen. 

“Kalau program bapak atau ibu angkat stunting sukses, saya optimistis bisa terjadi penurunan minimal di sekitar 10 persen. Kalau misalnya ini lebih fokus lagi, saya yakin bisa zero stunting tahun depan,” katanya.

Salah seorang ASN di Dinas Perumahan, Tata Ruang Dan Kebersihan (Disperkimtan) kabupaten Bandung, Ferdiansyah. Ia menyambut baik rencana Bupati Bandung Dadang Supriatna itu. Karena memang, program pengentasan stunting itu, untuk mempersiapkan generasi sehat dan unggul dimasa depan. Sebagai ASN dan jug warga negara Indonesia yang baik, tentu memiliki kewajiban untuk turut membantu menurunkan angka stunting.

"Tentu kami tidak keberatan menjadi orang tua asuh untuk mengentaskan stunting di kabupaten Bandung ini. Itu program yang baik, dan saya sebagai ASN tentu siap mendukung dan melaksanakannya," katanya. 

Namun demikian, kata Ferdiansyah, soal besaran uang yang harus ia sisihkan sebagai orang tua asuh. Sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing ASN. Karena memang, tidak semua ASN mempunyai kemampuan keuangan yang sama.

"Teknisnya seperti apa, dan saya sih inginnya jangan disamakan. Kan setiap ASN juga punya golongan  dan tunjangan yang berbeda-beda nilainya. Jangan sampai memberatkan juga, sebaiknya dibedakan sesuai golongan dan jabatannya, jangan disama ratakan," katanya.

Sambutan positif juga dikatakan oleh Asep S, salah seorang guru ASN di Kecamatan Cangkuang. Menurutnya, ASN yang menjadi orang tua angkat bagi anak-anak dan ibu hamil untuk mencegah stunting, bisa menjadi gerakan sosial yang baik. Namun tentunya harus dilakukan sesuai kemampuan, jangan sampai memberatkan ASN tersebut. 

"Selain itu gerakan ini juga harus tepat sasaran serta tranparan. Karena kami ingin uang yang dikeluarkan ini tepat sasaran, jadi teknis pelaksanaannya juga harus jelas dan tranparan," katanya.(rd dani r nugraha)


Editor : Ahmad Sayuti