Buruh Terampil, Industri Stabil
TAK sekadar mengejar investasi industri, Pemprov Jabar mendorong pertumbuhan sektor manufaktur melahirkan tenaga kerja berkualitas mumpuni.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Muhammad Ginanjar
Perubahan teknologi industri menjadi tantangan baru yang harus dijawab pemerintah termasuk Jawa Barat. Kebutuhan terhadap pekerja tetap tinggi, namun perkembangan otomatisasi membuat perusahaan membutuhkan sumber daya manusia dengan kemampuan teknis yang lebih spesifik.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani mengatakan, transformasi teknologi membuat kompetensi tenaga kerja menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri.
Nining menjelaskan, penggunaan mesin semi otomatis bukan untuk menggantikan seluruh peran manusia, melainkan meningkatkan ketepatan dan mutu produksi.
“Namun, untuk memberikan presisi dan kualitas produk yang lebih baik, mesin-mesin semi otomatis didatangkan,” ujar Nining, Kamis (13/8).
Menurut dia, kondisi tersebut membuat industri membutuhkan pekerja yang mampu mengoperasikan teknologi produksi, bukan hanya memiliki keterampilan dasar.
“Di sisi lain, industri membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi karena keterampilan dasar saja tidak lagi cukup. Sebagai contoh, meskipun posisinya sebagai operator jahit, pekerja tersebut tetap dituntut untuk menguasai teknologi mesin yang akan dioperasikan,” ucapnya.
Menghadapi perubahan kebutuhan industri, Pemprov Jawa Barat mulai memperkuat strategi penyiapan tenaga kerja berbasis kebutuhan pasar. Pemetaan kebutuhan pekerja dilakukan sejak investasi mulai masuk agar program pelatihan dapat lebih tepat sasaran.
Program peningkatan kemampuan atau upskilling serta pelatihan ulang, atau re-skilling menjadi salah satu langkah untuk menutup kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dan kompetensi tenaga kerja.
Tidak hanya menyasar calon pekerja baru, program tersebut juga diarahkan kepada pekerja yang sudah berada di industri agar memiliki peluang peningkatan karier, mulai dari operator hingga supervisor.
Pemprov Jabar menggandeng sejumlah lembaga, seperti Balai Diklat Industri, BPSDMI Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Ketenagakerjaan untuk menyusun pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan sektor industri.
Beberapa program yang telah berjalan di antaranya Pelatihan Supervisor Sewing, Pelatihan Penempatan Tenaga Kerja Industri dan Sertifikasi Operator di Kabupaten Majalengka, serta Pelatihan Penempatan Tenaga Kerja di Kabupaten Ciamis.
Kolaborasi dengan pihak swasta juga diperkuat. Salah satunya melalui kerja sama dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), yang memfasilitasi peningkatan keterampilan tenaga kerja hingga terserap di industri produk tekstil Kabupaten Ciamis.
Pemprov Jabar juga tengah membuka peluang kerja sama serupa dengan perusahaan ritel di wilayah Jawa Barat.
Di sektor pendidikan, pemerintah memperkuat hubungan antara SMK dan dunia industri melalui program link and match.
Upaya tersebut dilakukan melalui penyesuaian kurikulum, pemetaan kebutuhan kompetensi, program Industri Mengajar, magang guru di perusahaan, hingga peningkatan kualitas praktik kerja lapangan.
Hingga 2026, sebanyak 740 kerja sama antara SMK dengan dunia usaha dan dunia industri telah terbentuk di Jawa Barat.
Selain menyiapkan tenaga kerja, Pemprov Jabar juga mengembangkan platform Nyari Gawe sebagai sarana mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan.
Platform tersebut sekaligus menjadi basis pembangunan talent pool, agar kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja dapat lebih mudah dipadukan.
Namun, penguatan sektor industri Jawa Barat tidak berhenti pada persoalan sumber daya manusia. Pemerintah juga berupaya memastikan investasi yang masuk memberikan dampak luas bagi industri lokal melalui pembangunan rantai pasok dalam negeri.
Selama ini, sejumlah sektor industri masih menghadapi persoalan ketergantungan terhadap bahan baku dan komponen impor. Kondisi tersebut membuat industri rentan terhadap perubahan nilai tukar, gangguan logistik global, hingga ketidakpastian geopolitik.
Maka dari itu, Pemprov Jabar mendorong penguatan rantai pasok melalui peningkatan penggunaan bahan baku lokal, hilirisasi industri, kemitraan industri besar dengan industri kecil dan menengah (IKM), serta optimalisasi produk dalam negeri.
Nining menilai, pembentukan rantai pasok lokal menjadi pekerjaan penting agar industri Jawa Barat tidak hanya menjadi lokasi produksi akhir, tetapi mampu melibatkan lebih banyak pelaku usaha daerah. (bsf)
Editor : Inilahkoran


