Cara Memilih Minyak Goreng yang Lebih Sehat dan Aman untuk Sehari-hari

Ketahui cara memilih minyak goreng yang lebih sehat, jenis minyak yang cocok untuk memasak, bahaya pemanasan berulang, dan cara membuang minyak jelantah.

Cara Memilih Minyak Goreng yang Lebih Sehat dan Aman untuk Sehari-hari
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-Memilih minyak goreng bukan hanya soal harga, rasa, atau jenis makanan yang akan dimasak. Jenis minyak, kandungan lemak, cara penggunaan, hingga frekuensi pemanasan juga perlu diperhatikan karena dapat berpengaruh terhadap kesehatan.

Secara umum, minyak refined lebih tahan terhadap panas dan cocok digunakan untuk memasak. Sementara itu, minyak unrefined, seperti extra virgin dan cold-pressed, cenderung mempertahankan lebih banyak senyawa alami, nutrisi, dan cita rasa.

minyak zaitun Bisa Menjadi Pilihan

minyak zaitun termasuk salah satu pilihan yang baik karena kaya akan lemak tak jenuh tunggal. Konsumsi lemak tak jenuh sebagai bagian dari pola makan sehat dikaitkan dengan kesehatan jantung yang lebih baik.

Untuk kebutuhan memasak sehari-hari, minyak zaitun yang telah melalui proses refined atau minyak campuran refined dan unrefined dapat digunakan. Sementara itu, extra virgin olive oil (EVOO) lebih cocok digunakan sebagai tambahan makanan, campuran saus, atau dressing salad sehingga cita rasanya tetap terasa.

Selain minyak zaitun, minyak kanola atau rapeseed juga dapat menjadi pilihan. Minyak ini mengandung lemak tak jenuh dan sejumlah vitamin serta asam lemak omega-3, omega-6, dan omega-9.

Hindari Memanaskan Minyak Berulang Kali

Hal penting lainnya adalah memperhatikan bagaimana minyak digunakan. Pemanasan minyak secara berulang dapat menyebabkan minyak mengalami perubahan dan menghasilkan senyawa hasil degradasi, termasuk aldehida, terutama ketika minyak dipanaskan pada suhu tinggi dalam waktu lama.

Karena itu, minyak bekas sebaiknya tidak digunakan berkali-kali. Selain dapat memengaruhi kualitas makanan, penggunaan minyak secara berulang juga dapat meningkatkan pembentukan senyawa yang tidak diinginkan.

Minyak yang sudah berubah warna, berbau tengik, menghasilkan banyak asap, atau mengalami perubahan tekstur sebaiknya tidak digunakan kembali.

minyak kelapa Sebaiknya Tidak Menjadi Pilihan Utama

minyak kelapa memiliki kandungan lemak jenuh yang relatif tinggi. Karena itu, penggunaannya sebaiknya tidak berlebihan dan tidak dijadikan satu-satunya pilihan minyak untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebagai bagian dari pola makan seimbang, minyak yang lebih tinggi kandungan lemak tak jenuh dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan sumber lemak yang dominan mengandung lemak jenuh.

Perhatikan Juga Dampak Lingkungan

Memilih minyak goreng tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga dapat mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.

Minyak sawit, misalnya, memiliki dampak lingkungan yang sangat bergantung pada cara produksinya. Perkebunan sawit yang tidak dikelola secara berkelanjutan dapat berkaitan dengan deforestasi dan hilangnya habitat.

Minyak lain seperti minyak alpukat, kedelai, dan almond juga memiliki dampak lingkungan masing-masing. Faktor seperti penggunaan lahan, air, energi, serta metode produksi perlu dipertimbangkan ketika menilai keberlanjutan suatu jenis minyak.

Jangan Buang Minyak Bekas ke Saluran Air

Setelah digunakan, minyak goreng juga perlu dibuang dengan cara yang tepat. Minyak bekas sebaiknya tidak dibuang ke wastafel atau saluran air karena dapat menempel dan menumpuk di dalam pipa sehingga menyebabkan penyumbatan.

Sebaiknya minyak bekas didinginkan terlebih dahulu, kemudian disimpan dalam wadah tertutup. Setelah itu, minyak dapat dibuang atau disalurkan ke fasilitas pengumpulan dan daur ulang minyak jelantah apabila tersedia di wilayah tempat tinggal.

Pilih Minyak Sesuai Kebutuhan

Tidak ada satu jenis minyak yang harus digunakan untuk semua kebutuhan. Pemilihan minyak dapat disesuaikan dengan jenis masakan, metode memasak, suhu yang digunakan, serta kebutuhan rasa.

Yang tidak kalah penting adalah menggunakan minyak secukupnya, menghindari pemanasan berulang, dan menjaga pola makan secara keseluruhan.

Dengan memahami karakteristik setiap jenis minyak, masyarakat dapat membuat pilihan yang lebih tepat, baik untuk kesehatan maupun untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan.***


Editor : JakaPermana