Cegah Stunting Dibidik Sejak Remaja, 200 Siswi SMPN 1 Gebang Didorong Rutin Minum TTD

Upaya menekan kasus stunting di Kabupaten Cirebon kini diperkuat dari kelompok remaja. Sebanyak 200 siswi SMPN 1 Gebang mendapat edukasi kesehatan dan TTD.

Cegah Stunting Dibidik Sejak Remaja, 200 Siswi SMPN 1 Gebang Didorong Rutin Minum TTD
Kepala Dinkes Kabupaten Cirebon Eni Suhaeni mengedukasi siswi SMPN 1 Gebang tentang pencegahan anemia dan stunting sejak remaja. (maman suharman) 

INILAHKORAN.ID - Upaya menekan kasus stunting di Kabupaten Cirebon kini diperkuat dari kelompok remaja. Sebanyak 200 siswi SMPN 1 Gebang mendapat edukasi kesehatan dan didorong rutin mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) untuk mencegah anemia sejak dini.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon Eni Suhaeni mengatakan, pencegahan stunting tidak cukup dilakukan ketika seorang perempuan sudah memasuki masa kehamilan. Intervensi perlu dimulai jauh sebelumnya, terutama saat masih berusia remaja.

"Adik-adik remaja putri ini adalah calon ibu di masa depan. Pencegahan stunting tidak dimulai saat hamil atau setelah anak lahir, tetapi harus dimulai sejak usia remaja putri dengan menjaga kesehatan reproduksi dan kecukupan gizi," kata Eni, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah risiko anemia pada remaja putri. Kondisi tersebut berkaitan dengan siklus menstruasi setiap bulan yang membuat kebutuhan zat besi harus terpenuhi.

Untuk itu, Dinkes mendorong remaja putri membiasakan diri mengonsumsi TTD satu kali setiap pekan.

"remaja putri sangat rentan mengalami anemia karena mengalami siklus haid setiap bulannya. Oleh karena itu, rutin mengonsumsi tablet tambah darah seminggu sekali sangat penting untuk mencegah anemia agar nantinya tidak melahirkan bayi stunting," ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, ratusan siswi tidak hanya mendapatkan penyuluhan. Mereka mengikuti senam dan sarapan bersama serta mengonsumsi TTD secara serentak.

Dinkes juga menggandeng Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) serta Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) untuk memberikan edukasi mengenai gizi, kesehatan reproduksi dan pencegahan stunting.

Eni meminta program tersebut tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Sekolah diharapkan ikut mengawasi dan membangun kebiasaan siswi mengonsumsi TTD sesuai anjuran.

Pengawasan tersebut dinilai penting agar pemberian TTD tidak sebatas menjadi agenda seremonial, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan untuk menekan risiko anemia pada remaja putri.

Selain konsumsi TTD, pola makan juga menjadi perhatian. remaja didorong membiasakan sarapan dengan gizi seimbang serta memperbanyak asupan protein hewani.

"Pencegahan stunting harus didukung dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Biasakan sarapan bergizi seimbang sebelum beraktivitas, mengonsumsi makanan kaya protein hewani, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan," kata Eni.

Dia menambahkan, melalui intervensi sejak usia sekolah tersebut, Dinkes Kabupaten Cirebon berharap mata rantai risiko stunting dapat ditekan sebelum remaja putri memasuki usia pernikahan dan kehamilan.

"Upaya ini sekaligus menempatkan kesehatan dan kecukupan gizi remaja putri. Ini salah satu bagian penting dalam pencegahan stunting jangka panjang di Kabupaten Cirebon," pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani