Cekcok Tetangga Berujung Tragedi di Karangjaya

Cekcok Tetangga Berujung Tragedi di Karangjaya
JENAZAH: Petugas Kamar Mayat RSUD dr. Soekardjo saat menutupi tubuh jenazah korban pembacokan di Desa Karangjaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (19/8).

INILAH, Tasikmalaya- Sebuah petak tanah di pedesaan Tasikmalaya yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi panggung tragedi memilukan.

Tragedi berdarah antar tetangga tak terhindarkan.

Di balik jeruji besi, seorang pemuda bernama ERS (35) kini harus merenungi nasibnya. Ia menghabisi nyawa tetangganya sendiri bukan karena dendam lama, melainkan karena ledakan emosi sesaat setelah melihat ayahnya pulang dengan kondisi tubuh lebam.

Rabu (19/8) siang WIB, ayah dari ERS terlibat cekcok mulut yang hebat dengan korban, Tatang Hendro. Keduanya sama-sama warga Kampung Ciaren, Desa Karangjaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Pertengkaran verbal tersebut dengan cepat memanas hingga berujung pada perkelahian fisik. Sang ayah yang sudah tidak muda lagi terdesak dan mengalami luka lebam di tubuhnya akibat benturan fisik tersebut.

Melihat orang tua yang dihormatinya pulang ke rumah dalam keadaan terluka dan lebam adalah sebuah hantaman psikologis yang berat.

Logika ERS seketika runtuh dan digantikan oleh amarah yang membakar dada.

Tanpa berpikir panjang tentang konsekuensi masa depan, ia meraih senjata tajam dan langsung mendatangi Tatang Hendro. Pembacokan maut itu terjadi begitu cepat.

Jenazah korban tiba di Kamar Mayat RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya sekitar pukul 12.45 WIB setelah dievakuasi langsung dari lokasi kejadian menggunakan ambulans rumah sakit.

Setibanya di kamar mayat, jenazah yang masih berada di dalam kantong mayat kemudian dipindahkan petugas ke ruang tindakan.

Petugas Kamar Mayat RSUD dr. Soekardjo, Dona Dermawan, membenarkan adanya luka pada tubuh korban. Namun, ia tidak dapat menjelaskan secara rinci jenis maupun lokasi luka karena hal tersebut menjadi kewenangan kepolisian.

“Kalau luka memang ada, tetapi kami tidak bisa menyampaikan secara detail karena itu sepenuhnya kewenangan pihak kepolisian,” ujar Dona di RSUD dr. Soekardjo.

Berdasarkan keterangan Ketua RT 10, Nanang Nurhidayat, peristiwa tersebut diduga berawal dari cekcok antara korban dengan Sanusi, yang merupakan ayah dari terduga pelaku.

Nanang mengatakan, aksi tersebut diduga dilatarbelakangi emosi dan rasa iba pelaku setelah melihat kondisi orang tuanya.

Menurutnya, ERS merupakan seorang pengusaha tahu bulat. Dalam kesehariannya, E dikenal biasa saja dan jarang pulang ke kampung karena tinggal di Bandung.

ERS diketahui sedang berada di kampung karena pulang untuk mengikuti kegiatan dalam rangka perayaan HUT Kemerdekaan RI.

“Pulang karena ada acara Agustusan,” ujar Nanang.

Nanang menyebut, hubungan antara orang tua korban dan orang tua terduga pelaku saling mengenal. “Keduanya dekat dan saling kenal,” katanya.

Meski terjadi penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia, situasi di lingkungan kampung disebut tetap kondusif. “Alhamdulillah sejauh ini masih kondusif,” ujar Nanang.

Nanang juga menyebut terduga pelaku tidak melarikan diri setelah kejadian. Bahkan, pelaku disebut masih berada di lokasi dan berencana menyerahkan diri kepada polisi.

Sementara itu, Kapolsek Karangjaya Iptu Saptaji mengatakan, ketika polisi tiba di lokasi, kondisi sudah relatif terkendali. Saat itu, terduga pelaku masih berada di sekitar lokasi bersama kedua orang tuanya.

“Di TKP tak ada orang lagi, kecuali ada pelaku sama ayah dan ibunya,” kata Saptaji.

Saptaji menjelaskan, informasi mengenai perkelahian antara Sanusi dan korban kemudian disampaikan kepada ERS oleh istrinya. ERS lalu datang ke lokasi dengan membawa senjata tajam.

“Terus istrinya nyamperin ngasih tahu ke anaknya. Pokoknya anaknya datang bawa bedog (golok),” ujarnya.

Polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan kronologi lengkap, motif, serta peran masing-masing pihak dalam peristiwa penganiayaan yang berujung maut tersebut.

(nunung nurohman)


Editor : Inilahkoran