Celah Hemat BUMD Jabar

Celah Hemat BUMD Jabar
DIBONGKAR: Pos-pos pengeluaran yang tak efisien akan dibongkar, termasuk biaya sewa kendaraan listrik.

Oleh: Yuliantono

INILAH, Bandung - Setiap rupiah yang keluar dari perusahaan daerah kini menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Di tengah upaya memperkuat tata kelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), sejumlah pos pengeluaran mulai diperiksa untuk memastikan tidak ada anggaran yang berjalan tanpa perhitungan matang.

Setelah sebelumnya menyoroti praktik percaloan di PT Jasa Sarana, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menemukan pengeluaran yang dinilai tidak efisien. Kali ini, sorotan diarahkan kepada skema penyewaan kendaraan listrik di PT Migas Utama Jabar (MUJ).

Dedi menilai biaya penyewaan kendaraan listrik yang dilakukan BUMD tersebut tidak sebanding dengan nilai kendaraan yang digunakan. Menurutnya, dengan perhitungan yang lebih tepat, perusahaan daerah seharusnya dapat memilih opsi yang lebih menguntungkan.

Dia mengatakan, satu unit kendaraan listrik yang disewa PT MUJ menghabiskan biaya sekitar Rp300 juta per tahun. Padahal, dengan nilai sekitar dua kali lipat, kendaraan baru dengan spesifikasi lebih baik sudah dapat dimiliki.

“Satu mobil listriknya rata-rata Rp300 juta dalam setiap tahun, mobil listrik buatan pabrik di Subang sekarang Rp600 juta sudah mewah,” ujar Dedi saat ditemui di Kantor DPRD Jabar, Kota Bandung, Rabu (5/8).

Bagi Dedi, persoalan tersebut bukan hanya soal satu jenis pengeluaran. Temuan itu menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan BUMD Jawa Barat agar setiap keputusan bisnis memberikan manfaat maksimal bagi perusahaan dan daerah.

Pemprov Jabar pun mulai menghentikan pola pengeluaran yang dinilai kurang efektif. Langkah tersebut dilakukan untuk memangkas potensi pemborosan sekaligus memperbaiki tata kelola perusahaan daerah.

Dedi menyebut masih ada sejumlah titik kecil dalam pengelolaan anggaran yang perlu diperiksa lebih mendalam. Menurutnya, pembenahan harus dilakukan mulai dari hal-hal yang terlihat sederhana karena dapat berdampak terhadap efisiensi perusahaan.

“Nah sekarang sudah kita potong, tidak boleh lagi. Ini adalah titik-titik kecil yang saya coba kuliti,” pungkasnya.

(gin)


Editor : Inilahkoran