Cerita di Balik Layar Pusat Data dan Listrik Kita

Cerita di Balik Layar Pusat Data dan Listrik Kita
POTENSI: Indonesia dinilai menjanjikan sebagai tujuan investasi pusat data atau data center melalui insentif kompetitif, listrik andal, dan transisi energi bertahap.(ANTARA FOTO)

INILAH, Jakarta- Bayangkan sebuah investasi raksasa senilai 100 juta dolar AS masuk ke Indonesia untuk membangun pusat data (data center).

Angka itu terdengar fantastis di atas kertas. Namun, di balik dinding-dinding beton yang dipenuhi ribuan server canggih tersebut, kenyataannya hanya ada sekitar 15 manusia yang bekerja secara permanen di sana. Sisanya? Hanya mesin yang berdesing tanpa henti selama 24 jam.

Kenyataan pahit tentang minimnya lapangan kerja inilah yang membuat Putra Adhiguna, Managing Director Energy Shift Institute (ESI), mengingatkan kita semua untuk tidak silau dengan angka-angka investasi yang menggiurkan.

Pernyataan Putra ini muncul bukan tanpa alasan. Belum lama ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melontarkan ide ambisius: menawarkan pulau-pulau di Indonesia kepada investor global sebagai rumah baru bagi pusat data mereka.

Indonesia memang sangat seksi di mata dunia karena punya posisi strategis, listrik yang andal, dan komitmen menuju transisi energi hijau.

Namun, Putra mengingatkan bahwa kita tidak boleh sekadar menjadi "penonton" atau sekadar menyewakan tanah.

"Indonesia adalah negara yang sangat menjanjikan untuk pasar data center. Tetapi, insentif yang diberikan pemerintah harus berpijak pada unsur keadilan nilai tambah dalam negeri dan transisi yang lebih hijau," ujar Putra hangat saat berbincang dengan ANTARA di Jakarta.

Bagi Putra, esensi dari sebuah investasi harus kembali kepada kesejahteraan rakyat. Jika sebuah industri hanya mempekerjakan sedikit orang, maka pemerintah wajib memutar otak.

Caranya? Pastikan setiap insentif atau kemudahan yang diberikan kepada investor benar-benar membawa manfaat ekonomi yang nyata dan adil bagi masyarakat lokal, bukan sekadar keuntungan bagi segelintir raksasa teknologi.

Tantangan lainnya ada pada daya listrik. Mesin-mesin pusat data membutuhkan energi yang luar biasa besar dan stabil.

Di satu sisi, para raksasa teknologi ini menuntut energi bersih demi label "ramah lingkungan" mereka.

Di sisi lain, prioritas utama kita tetaplah menjaga agar listrik di rumah-rumah warga tidak biar-pet demi menghidupi server-server asing tersebut.

Di sinilah PT PLN memegang peran krusial. Mereka harus mampu menari di antara dua kepentingan: memenuhi dahaga energi industri masa depan ini, tanpa sedikit pun mengorbankan kenyamanan masyarakat yang berhak atas aliran listrik yang andal setiap harinya.

Pada akhirnya, karpet merah yang kita gelar untuk para investor pusat data jangan sampai menguras energi kita sendiri. Investasi terbaik adalah investasi yang tidak hanya menghidupkan mesin-mesin digital, tetapi juga menghidupi dan memakmurkan manusia di sekitarnya. (bsf)


Editor : Inilahkoran