Cerita Fahrul Azrori, Alumnus STIKes Budi Luhur yang Sukses Wujudkan Mimpi menjadi Perawat di Jepang 

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina menjadi pesan sang ayah yang selalu diingat Fahrul Azrori Nasution (21), salah satu alumni STIKes Budi Luhur yang bisa berkarir di Jepang.

Cerita Fahrul Azrori, Alumnus STIKes Budi Luhur yang Sukses Wujudkan Mimpi menjadi Perawat di Jepang 
Pemuda asal Medan ini berangkat bersama 30 alumni STIKes Budi Luhur ke sejumlah negara seperti Jepang, Kuwait, Turki dan Arab Saudi dengan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP). (agus satia negara)

INILAHKORAN, Cimahi - Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina menjadi pesan sang ayah yang selalu diingat Fahrul Azrori Nasution (21), salah satu alumni STIKes Budi Luhur yang bisa berkarir di Jepang.

Pemuda asal Medan ini berangkat bersama 30 alumni STIKes Budi Luhur ke sejumlah negara seperti Jepang, Kuwait, Turki dan Arab Saudi dengan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Mimpi besar untuk bisa bekerja di negeri matahari terbit itu tidak digapainya dengan mudah. Perlahan tapi pasti, jalan panjang dan berliku pun mampu dilaluinya dengan bukti nyata.

"Ayah saya pernah berpesan tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Kalau sudah dapat ilmunya baru kembali dan terapkan, serta kembangkan ilmunya di Indonesia," kata Fahrul Azrori saat ditemui di Cimahi baru-baru ini.

"Kalau dalam peribahasa negeri Cina, tapi saya pilih Jepang untuk mendapatkan ilmu keperawatan," ujarnya.

Dulu, kata Fahrul, dirinya memang sudah berencana untuk berangkat ke Jepang. Saat itu, dirinya masih bersekolah di SMK Kesehatan ARAS Kota Depok.

Kemudian, dosen dari STIKes Budi Luhur datang ke sekolahnya di Depok dan memberikan informasi bahwa ada kesempatan untuk kuliah dengan jurusan kesehatan di Cimahi dengan beasiswa KIP.

"Dari sana mempersilakan siswa yang berminat untuk kuliah di STIKes Budi Luhur dan ada informasi beasiswa ke Jepang. Karena memang saya ingin ke sana dengan beasiswa KIP jadi saya datang ke Cimahi," ujarnya.

Singkat cerita, sambung Fahrul, dirinya masuk ke STIKes Budi Luhur hingga lulus pada 2024 kemarin dengan menggunakan beasiswa KIP dan mengambil jurusan keperawatan.

"Alhamdulillah, semua biaya dicover KIP dan sisanya bisa dibayarkan ketika saya sudah bekerja di Jepang. Kan uang semesterannya itu lumayan besar dan beasiswa KIP itu belum mencakup semuanya," katanya.

"Alhamdulillah gak jadi beban dan senang bisa kuliah di sana," imbuhnya.

Setelah lulus dari kampus dan ke Lembaga Pelatihan Kerja, ungkap Fahrul, dirinya sempat mendapatkan pelatihan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad).

"Jadi saya diarahkan merapat ke Unpad dan belajar selama lebih dari satu bulan. Alhamdulillah, saya punya basic tentang Jepang di sana," tuturnya.

Setelah itu, lanjut Fahrul, kampus memberikan kesempatan kepada dirinya untuk kembali ke LPK yang ada di Sumedang.

"Di LPK Sumedang saya belajar dan memahami apa itu Jepang dan bahasanya," katanya.

Fahrul pun mengungkapkan alasannya memilih Jepang sebagai negara tempat dirinya berkarir. Selain suka menjadi perawat, teknologi di sana pun sangat bagus dan ingin menjadi perawat lansia.

"Di Jepang perawatan lansianya sangat bagus. Selain itu, tujuan saya datang ke Jepang untuk mengetahui lebih dalam tentang teknologi yang ada di sana terkait perawatan lansia," ungkapnya.

"Kemudian ilmu yang didapatkan di sana akan saya terapkan di Indonesia," ucapnya.

Fahrul menyebut, dirinya dikontrak di Jepang selama tiga tahun dan berencana melanjutkan kembali kontraknya tatkala sudah selesai.

"Jadi memang saya berencana tinggal lama di sana," sebutnya.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 31 alumni Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Budi Luhur Kota Cimahi bakal terbang ke sejumlah negara di Asia dan Timur Tengah.

Tak hanya membuktikan hasil belajarnya, puluhan alumni STIKes Budi Luhur ini bakal bekerja di negara Jepang, Kuwait hingga Turki sesuai dengan program studi (prodi) yang dipilihnya selama mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

"Hari ini memang kegiatannya ada dua, ada kegiatan angkat janji untuk mahasiswa tingkat I. Jadi, di pertama kali mereka akan praktik di rumah sakit, mereka harus diangkat janji dulu," kata Ketua STIKes Budi Luhur Cimahi Sri Wahyuni.

Pasalnya, meski masih mahasiswa, pada hakekatnya begitu masuk pada pelayanan kesehatan mereka juga harus mengikuti etika-etika profesi bidan dan perawat.

"Makanya sebelumnya harus diangkat janji dulu, seperti tidak boleh membeda-bedakan pasien, tidak membocorkan rahasia dan sebagainya," jelasnya.

Sri menyebut, agenda hari ini diikuti 114 mahasiswa dari semua prodi dan yang spesial hari ini STIKes Budi Luhur melepaskan lantaran mereka adalah para mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP).

"Kalau biasanya pelepasan itu sedikit-sedikit, tapi sekarang dalam jumlah yang banyak. Jadi STIKes Budi Luhur dalam beberapa tahun terakhir mendapatkan kuota KIP dari LLDIKTI dan Komisi X DPR RI yang khusus mengembangkan pendidikan sejak tahun 2020," sebutnya.

Sri menuturkan, untuk mahasiswa KIP ini mereka tak hanya sekadar lulus namun diharapkan bisa bekerja tidak saja di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri seperti mereka dari program reguler.

"Jadi hari ini ada 31 mahasiswa KIP dan tambahan alumni KIP lainnya berangkat ke Jepang, Turki, Kuwait dan ke Arab Saudi," sebutnya.

Dijelaskan Sri, mereka akan bekerja di berbagai macam profesi, mulai dari health spa, perawat lansia sesuai dengan unggulan D3 Keperawatan dan untuk pendidikan nurse tentunya bekerja sebagai perawat di rumah sakit pemerintah di Kuwait dan Arab Saudi.

"Ada alumni kita sebanyak 6 orang yang akan berangkat, salah satunya dosen-dosen muda kami," jelasnya.


Editor : Doni Ramdhani