Cimahi Bersiap Hadapi Bencana

Cimahi Bersiap Hadapi Bencana
HUJAN DERAS: Seorang warga membawa payung saat hujan deras mengguyur beberapa wilayah di Indonesia.(ILUSTRASI/ANTARA)

INILAH, Cimahi - Musim hujan mulai menyapa Kota Cimahi. Bersamaan dengan datangnya hujan, ancaman bencana hidrometeorologi kembali membayangi. Longsor, banjir, hingga genangan air menjadi risiko yang perlu diantisipasi sebelum berubah menjadi persoalan lebih besar.

Peristiwa longsor di Perumahan Buana Flamingo, Cibeber, Cimahi Selatan, menjadi salah satu pengingat bahwa bencana bisa datang ketika kesiapsiagaan belum sepenuhnya terbangun. Karena itu, masyarakat diminta tidak lengah menghadapi perubahan cuaca dan meningkatnya curah hujan.

Ketua DPRD Kota Cimahi Wahyu Widyatmoko mengatakan, kewaspadaan terhadap bencana tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar juga menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana.

“Peristiwa longsor yang terjadi di Perumahan Buana Flamingo, Cibeber, Cimahi Selatan, menjadi pengingat bagi kita semua bahwa risiko bencana di musim hujan bukan sekadar ancaman yang harus ditunggu, namun harus diantisipasi sejak dini,” kata Wahyu, akhir pekan lalu.

Menurut dia, ancaman yang perlu diperhatikan bukan hanya longsor. Banjir dan genangan air juga menjadi persoalan berulang di Cimahi setiap kali intensitas hujan meningkat.

Salah satu penyebab yang perlu mendapat perhatian adalah kebiasaan membuang sampah sembarangan. Sampah yang menumpuk di saluran air dapat menghambat aliran sungai maupun drainase sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya genangan dan banjir.

“Peran kedisiplinan warga sangat menentukan, karena kebiasaan membuang sampah sembarangan ke saluran air atau di area terbuka dapat menyumbat aliran sungai dan drainase, yang pada akhirnya memperparah genangan maupun banjir,” ujarnya.

Persoalan genangan air juga tidak berhenti pada urusan lingkungan. Air yang tertampung terlalu lama berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk dan bakteri. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit di tengah masyarakat, terutama saat pergantian musim.

(agus satia negara/gin)


Editor : Inilahkoran