Cuaca dan Kurangnya Kesadaran Masyarakat Jadi Faktor DBD Kota Bogor Ketiga Terbesar di Indonesia

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor Hj Syarifah Sofiah menyebutkan cuaca, iklim dan kesadaran masyarakat yang masih kurang menjadi penyebab angka Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi ketiga di Indonesia. 

Cuaca dan Kurangnya Kesadaran Masyarakat Jadi Faktor DBD Kota Bogor Ketiga Terbesar di Indonesia

INILAHKORAN, Bogor - Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor Hj Syarifah Sofiah menyebutkan cuaca, iklim dan kesadaran masyarakat yang masih kurang menjadi penyebab angka Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi ketiga di Indonesia. 

Selain itu Kota Bogor juga aktif dalam pelaporan kasus ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) sehingga data akurat.

"Kan ini juga tergantung musim. Jadi nyamuk aedes aegypti sukanya pada cuaca yang memang dingin dan lembab. Jadi menggigit saat waktu pagi dan sore. Karena Kota Bogor yang dingin, mereka sukanya dingin, mungkin kalau datanya dibandingkan dengan daerah yang panas itu akan kelihatan," ungkap Syarifah kepada INILAHKORAN di Paseban Sri Baduga, Balai Kota Bogor pada Kamis 16 Mei 2024.

Syarifah melanjutkan, hal tersebut perlu diantisipasi oleh pihaknya, karena memang kondisi iklimnya seperti itu. 

"Selain iklim, kami tidak menyalahkan iklim nya. Sebetulnya pola hidup kita di rumah masing-masing. Misalnya rumahnya ventilasinya tertutup, lembab, tumpukan barang, genangan air," tuturnya.

Syarifah menjelaskan, sosialisasi ke masyarakat terus menerus, meski kesadaran hanya ada ketika keluarganya terkena DBD

"Ya, kami terus menerus ya sosialisasi. Karena sosialisasi seperti ini kadang-kadang, ada keluarganya kena, baru dia sadar. Makanya kami terus mengingatkan agar selalu dilakukan pembersihan," jelasnya.

Syarifah membeberkan, DBD ini kan sebetulnya juga tergantung dari kondisi kenyataannya, juga tergantung pelaporan. Kota Bogor pelaporannya termasuk pelaporan yang sangat aktif, jadi setiap ada kasus pastinya dilaporkan.

"Tapi juga mungkin kami nggak tahu, daerah lain aktif melaporkan juga atau tidak. Tapi yang tergambar, akhirnya memang benar-benar itu yang harus kami antisipasi. Data di Kota Bogor penderitanya ketemu 20 ribuan, 11 yang meninggal. Dan sebagian besar yang meninggal ada di kelompok umur 7 tahun sampai 15 tahun," bebernya.

"Kami sudah beberapa langkah yang sudah dilakukan di sekolah-sekolah Gertak PSN. Jumantik di sekolah, di tingkat RT/RW. Mudah-mudahan ini bisa mengurangi," pungkasnya.

Diketahui, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat temuan kasus DBD di Indonesia menunjukkan tren kenaikan dibanding tahun lalu dalam periode yang sama. Dalam keterangannya Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi merinci pada periode Januari hingga April 2023, jumlah kasus DBD sebesar 28.579 kasus. Sementara pada periode Januari-April 2024, temuan DBD naik signifikan menjadi 88.593 kasus.

Jika dikalkulasi perbandingannya, maka terjadi kenaikan kasus DBD hingga 209 persen atau tiga kali lipat dibandingkan 2023 silam pada periode yang sama.

Siti juga menyebut lima kabupaten dan kota dengan kasus tertinggi, yaitu Kota Bandung 3.468 kasus, Kabupaten Tangerang 2.540 kasus, Kota Bogor 1.944 kasus, Kota Kendari 1.659 kasus dan Kabupaten Bandung Barat 1.576 kasus. (Rizki Mauludi)


Editor : Ahmad Sayuti