Dari Barak Sederhana ke Kasdam III Siliwangi, Kisah Brigjen TNI Agus Bhakti

Perjalanan Brigjen TNI Agus Bhakti dari anak barak hingga Kasdam III Siliwangi, ditempa disiplin dan pilihan hidup yang mengubah mimpinya menjadi pengabdian.

Dari Barak Sederhana ke Kasdam III Siliwangi, Kisah Brigjen TNI Agus Bhakti
Kasdam III Siliwangi Brigjen TNI Agus Bhakti saat wawancara dengan INILAHKORAN di ruang kerjanya, pekan lalu. (Adam Husein/InilahKoran)

INILAHKORAN.ID - Tak semua mimpi berakhir di tempat yang sama. Brigjen TNI Agus Bhakti pernah ingin menjadi profesor, namun takdir membawanya ke medan tempur. Dari sanalah dia belajar tentang disiplin, kehilangan, dan arti pengabdian.

Seragam rapi dan bintang di pundaknya hari ini tak datang tiba-tiba. Ada perjalanan panjang yang ditempa dari ruang-ruang sempit, latihan keras, dan keputusan-keputusan hidup yang tak selalu mudah.

Di balik sosoknya sebagai Kasdam III Siliwangi, tersimpan cerita tentang seorang anak barak yang tumbuh dalam keterbatasan, lalu perlahan menemukan jalannya sendiri.

Agus lahir dan besar di lingkungan militer di Bandung, tepatnya di Asrama Tongkeng. Bukan hunian nyaman, melainkan barak sederhana yang disekat-sekat, tiap ruang dihuni satu keluarga. 

Kehidupan seperti itu sudah akrab baginya sejak kecil, mengikuti jejak sang ayah yang juga seorang prajurit TNI.

Namun, masa kecil di lingkungan militer tak otomatis menumbuhkan mimpi menjadi tentara. Dia justru pernah bercita-cita menjadi profesor, terinspirasi oleh semangat keilmuan yang berkembang di masa itu.

Semua berubah ketika dia duduk di bangku SMA Taruna Nusantara. Di usia yang masih muda, Agus harus kehilangan ayahnya. Duka itu datang bersamaan dengan kesadaran baru tentang realitas hidup.

“Saya berpikir uang pensiun orang tua tidak cukup untuk membiayai kuliah,” kenangnya, saat ditemui INILAH, di ruang kerjanya, pekan lalu.

Di titik itulah dia mengambil keputusan besar. Mimpi menjadi akademisi harus disimpan, digantikan oleh pilihan yang lebih realistis: mendaftar ke Akademi Militer. 

Bukan sekadar panggilan hati, tetapi juga jalan untuk tetap melanjutkan pendidikan tanpa membebani keluarga.

Keputusan itu menjadi titik balik hidupnya. Tahun 1996, Agus resmi menjadi perwira TNI. Dia melangkah tanpa kehadiran sang ayah, hanya ditemani ibunya. Namun justru dari situlah keteguhan itu terbentuk. 

Kariernya bergulir panjang. Selama 13 tahun dia ditempa di Kopassus, satuan elite yang menuntut kesiapan tanpa kompromi. Dari sana, dia berpindah ke berbagai wilayah: Bali, Kalimantan Utara, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Barat.

Dia pernah memimpin sebagai Danyonif 900 Raider Satya Bhakti Wirotama, menjadi Dandim 090/Malinau, hingga dipercaya sebagai Komandan Korem 162 Wirabakti. Setiap jabatan menghadirkan tantangan yang berbeda: dari medan tempur hingga dinamika sosial masyarakat.

“Di satuan tempur, kita harus selalu siap. Tapi di kewilayahan, kita harus berkolaborasi dengan masyarakat, pemerintah daerah, dan instansi lain,” ujarnya.

Perjalanan itu mengajarkannya satu hal: menjadi prajurit bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga tentang memahami manusia dan lingkungan yang dipimpin.

Pengalaman Agus semakin luas ketika dia bertugas di Mabes TNI AD, khususnya di bidang hubungan luar negeri. Dia mengunjungi sekitar 19 negara, menjalankan misi diplomasi militer yang tak selalu terlihat publik.

Dia juga menginisiasi kerja sama dengan angkatan darat negara lain, mempertemukan para pimpinan militer dari berbagai kawasan ASEAN, Australia, Eropa, hingga Amerika.

“Mempertemukan senior leader itu tidak mudah. Koordinasi harus intens,” katanya. Bahkan dalam satu pekan, dia pernah mengatur pertemuan dengan pihak Belanda, Belgia, Prancis, dan Turki.

Dari pengalaman lintas negara itu, Agus belajar banyak hal: cara berpikir strategis, kepemimpinan, hingga pentingnya komunikasi dalam menjaga hubungan antarnegara.

Kini, sebagai Kasdam III Siliwangi, dia memegang tanggung jawab besar di wilayah Jawa Barat dan Banten, dua provinsi dengan dinamika tinggi dan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Dia membawahi empat Korem dan 28 Kodim, sebuah struktur yang menuntut koordinasi dan ketelitian setiap hari.

Di tengah kompleksitas itu, Agus tetap berpegang pada prinsip sederhana namun kuat. Menurutnya, seorang prajurit harus memiliki tiga hal utama: fisik prima, pengetahuan mumpuni, dan integritas tinggi.

“Tidak bisa hanya pintar, atau hanya sehat. Semua harus seimbang,” tegasnya.

Dia juga menekankan, disiplin tidak identik dengan kekerasan. Dalam pembinaan prajurit, ketegasan harus hadir, tetapi tanpa kontak fisik. Profesionalisme dan tanggung jawab menjadi dasar utama. ***


Editor : Gin gin T Ginulur