Dari Laut, Satu Nama Kembali Pulang
SATU nama akhirnya teridentifikasi. Sukarman ditemukan, sementara lima jurnalis dan dua kru masih dinanti.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Sepuluh hari pencarian akhirnya membawa satu kepastian. Jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, teridentifikasi sebagai Sukarman atau Surakman (60), salah satu kru KM Arupadatu I yang hilang kontak bersama rombongan jurnalis di perairan Selat Sunda.
Kepastian itu diperoleh setelah tim Disaster Victim Investigation (DVI) Pusdokkes Polri melakukan pemeriksaan dan pencocokan data DNA secara mendalam.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, secara genetik dengan kode PM/62/P.Enggano/01, teridentifikasi sebagai Sukarman, ABK kapal yang merupakan ayah biologis dari Yayan (anak)," kata Kapolda Banten Irjen Pol Hengki dalam konferensi pers yang terpantau secara daring di Tangerang, Rabu.
Sukarman merupakan bagian dari delapan orang yang hilang kontak, terdiri atas lima jurnalis dan tiga kru kapal Arupadatu I. Kapal itu bertolak dari Dermaga Pagedongan Carita, Kabupaten Pandeglang, pukul 14.00 WIB, untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Setelah sepuluh hari pencarian intensif, titik terang muncul pada Sabtu, 12 September. Aparat kepolisian daerah Bengkulu menemukan sesosok jenazah laki-laki tanpa identitas di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano.
Jenazah kemudian dievakuasi menggunakan pesawat Cessna menuju Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu untuk menjalani proses identifikasi lanjutan.
"Bidang Dokkes Polda Banten kemudian mengirimkan data antemortem dan postmortem dari kedelapan keluarga korban hilang kontak. Tim DVI bersama Kasubbid Dokkes Polri melakukan pencocokan data primer yang meliputi sidik jari, gigi, hingga tes DNA (Disaster Victim Investigation)," ujar Hengki, seperti dikutip dari ANTARA.
Dengan rampungnya proses identifikasi, jenazah Sukarman direncanakan diterbangkan dari Bengkulu menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, untuk selanjutnya diserahkan kepada keluarga di Pandeglang.
"Jenazah akan diberangkatkan besok dari Dokkes Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga," kata Kapolda Hengki.
Kabar kepastian identitas itu sekaligus menjadi duka bagi keluarga Sukarman. Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan belasungkawa dan memastikan pemerintah daerah akan mendampingi keluarga.
"Atas nama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten, kami menyampaikan turut berduka cita yang mendalam kepada keluarga. Semoga keluarga diberikan ketabahan dan keikhlasan dalam menerima informasi ini," kata Gubernur Andra dalam keterangan resmi yang terkonfirmasi di Tangerang, Rabu.
Pemprov Banten juga memastikan pendampingan hingga proses pemulangan dan pemakaman jenazah.
"Insya Allah, kami bersama Polda Banten akan terus mendampingi keluarga dan menginformasikan setiap perkembangan yang ada. Kami juga akan mendukung penuh proses pemulangan jenazah dan pemakamannya," kata Andra Soni.
Ia juga mengapresiasi jajaran Polda Banten, Polda Bengkulu, tim SAR gabungan, dan relawan yang terlibat dalam proses pencarian hingga identifikasi.
"Kami sampaikan apresiasi kepada Polda Banten, Polda Bengkulu, serta seluruh tim SAR gabungan, dan relawan, yang telah bersinergi luar biasa dalam proses pencarian dan identifikasi, hingga diperoleh kepastian mengenai identitas Surakman," kata Andra Soni.
Namun, satu kepastian belum mengakhiri penantian. Tujuh korban lainnya masih belum ditemukan.
"Kepada keluarga dari tujuh korban yang belum ditemukan, semoga kita segera mendapatkan titik terang dan akan terus diinformasikan. Kami berharap dan senantiasa berdoa untuk segera menemukan saudara-saudara kita," ucap Andra.
Basarnas sebelumnya telah menutup operasi pencarian setelah menjalankan pencarian selama tujuh hari dan perpanjangan tiga hari berdasarkan evaluasi di lapangan.
"Secara aturan, pencarian kami terlaksana selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, kami lakukan perpanjangan selama tiga hari," ucap Kepala Basarnas Banten Al Amrad.
Selama masa perpanjangan tersebut, tim SAR gabungan tidak menemukan tanda-tanda korban lain. Meski operasi resmi ditutup, koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung serta masyarakat pesisir tetap dilakukan.
"Hingga saat ini kami sudah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung untuk wilayah pesisir, termasuk dengan para nelayan yang ada di sekitar wilayah tersebut," katanya.
Amrad mengatakan unsur SAR di Bengkulu masih melakukan pemantauan dan penyisiran terbatas di sekitar Pulau Enggano untuk menindaklanjuti informasi dari masyarakat maupun nelayan.
"Tindakan yang saat ini kami lakukan adalah koordinasi, termasuk edukasi kepada instansi terkait, nelayan dan masyarakat yang berada di wilayah pesisir, termasuk di sekitar Pulau Enggano," ujarnya.
Basarnas juga tetap membuka ruang tindak lanjut terhadap informasi baru.
"Kami tetap membuka ruang tindak lanjut melalui koordinasi intensif dengan sejumlah Kantor SAR dan unsur terkait di wilayah perairan yang memiliki keterkaitan dengan area pencarian," ujarnya.
Penemuan jenazah Sukarman menjadi satu kepastian setelah penantian panjang. Bagi tujuh keluarga lainnya, harapan masih tetap diarahkan kepada laut dan setiap kemungkinan yang dapat membawa mereka pulang. (gin)
Editor : Inilahkoran

