IGD Dipadati Pasien Influenza
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di sejumlah rumah sakit di Kota Bandung mulai lebih ramai dari biasanya. Keluhan demam tinggi disertai batuk dan pilek membuat warga berdatangan untuk memastikan kondisi kesehatannya.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meminta masyarakat tidak panik menghadapi meningkatnya kunjungan pasien tersebut. Menurutnya, keramaian di IGD perlu disikapi dengan hati-hati, sementara fasilitas kesehatan tetap siap memberikan pelayanan kepada warga yang membutuhkan.
“Pada dasarnya, kami tidak menganggap remeh fakta bahwa sekarang IGD lumayan penuh oleh para pasien yang mengeluhkan demam tinggi dan memiliki beberapa gejala influenza A yang khas yaitu batuk dan pilek,” kata Farhan, Rabu (23/9).
Di sisi lain, meningkatnya kunjungan pasien juga menunjukkan perubahan perilaku masyarakat. Warga dinilai semakin waspada terhadap gejala penyakit dan memilih lebih cepat mendatangi fasilitas kesehatan.
“Kalau kemarin-kemarin flu sedikit, panas sedikit minum obat saja di rumah. Sekarang karena waspada, jadi sudah langsung saja ke IGD,” ujarnya.
Bagi Farhan, kewaspadaan tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi peningkatan pasien dengan gejala influenza. Namun, meningkatnya kunjungan sekaligus membuat beban pelayanan di sejumlah IGD ikut bertambah.
“Buat kami, hal itu menunjukkan bahwa kemampuan antisipasi dari masyarakat sudah sangat tinggi. Kami tentu bersyukur dengan hal itu,” katanya.
Meski kunjungan meningkat, Farhan memastikan kapasitas fasilitas kesehatan dan tenaga medis di Kota Bandung masih siap menghadapi kondisi tersebut. Pelayanan IGD juga tetap berjalan selama 24 jam di berbagai fasilitas kesehatan.
“Pada saat bersamaan kapasitas, fasilitas dan juga kemampuan dari nakes serta faskes di Kota Bandung siap melayani,” katanya.
Penanganan pasien di IGD pun tidak bisa disamaratakan. Kondisi medis menjadi dasar untuk menentukan apakah pasien perlu mendapat perawatan lanjutan, menunggu antrean atau diperbolehkan pulang.
“Kalau ada yang bisa diminta menunggu dan bersedia menunggu dalam antrean, tapi kalau diperkirakan sudah membaik maka dipersilakan pulang. Itu sangat tergantung kondisi, saya tidak bisa memberikan sebagai sebuah kebijakan umum,” ujar Farhan.
Selain RSUD Bandung Kiwari, sejumlah rumah sakit swasta juga mulai mengalami peningkatan kunjungan. Meski demikian, Farhan mengatakan belum melihat seluruh rumah sakit di Kota Bandung mengalami kepadatan tinggi.
“Penuh banget sih enggak ya, tapi saya lihat beberapa rumah sakit swasta juga sekarang sudah lebih ramai dari biasanya,” jelasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Farhan meminta warga yang mengalami gejala influenza berat segera memeriksakan diri dan mendapatkan penanganan medis. Masyarakat juga diminta tetap tenang dan tidak melakukan pembelian masker secara berlebihan.
“Tidak perlu melakukan panic buying masker, memborong masker, tidak perlu,” katanya.
Bagi warga yang bepergian menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta api dan pesawat terbang, Farhan mengimbau penggunaan masker sebagai langkah pencegahan.
Sementara bagi anak sekolah yang mengalami gejala flu, ia menyarankan agar beristirahat di rumah. Siswa yang tetap beraktivitas di sekolah juga dianjurkan menggunakan masker sebagai langkah pencegahan.
“Untuk anak-anak sekolah yang menunjukkan gejala flu, sebaiknya tidak sekolah. Di rumah saja, kami akan izinkan dan kami maklumi,” ucapnya.
Farhan memastikan fasilitas kesehatan di Kota Bandung masih berada dalam kondisi terkendali. Pengalaman menghadapi Covid-19 menjadi salah satu acuan dalam menjaga kesiapan pelayanan, termasuk ketersediaan obat, oksigen dan perlindungan bagi tenaga kesehatan.
“IGD di seluruh Kota Bandung standby 24 jam. Belajar dari pengalaman kita menangani Covid, berbagai macam fasilitas, dari obat antivirus sampai oksigen dan juga keselamatan para nakes itu sudah betul-betul diperhatikan,” pungkasnya.
Melonjak
RSUD Bandung Kiwari mencatat, 2.860 kunjungan pasien ke instalasi gawat darurat (IGD) sepanjang 1-21 September 2026. Lonjakan kunjungan, membuat rata-rata 10 pasien per hari masuk daftar tunggu rawat inap.
Direktur RSUD Bandung Kiwari, Arief Budiman mengatakan, jumlah kunjungan itu setara rata-rata 136 pasien per hari. Dari total pasien, sekitar 61 persen melanjutkan perawatan ke ruang rawat inap.
"Dari jumlah tadi, kita ada daftar tunggu per harinya itu 10 pasien per hari yang tidak bisa dirawat inap. Tertinggi itu pada tanggal 12 September, ada 23 pasien yang tidak bisa masuk rawat inap," kata Arief Budiman, Rabu (23/9).
Menurutnya, rumah sakit tetap berupaya menangani pasien yang datang meski terjadi kepadatan di IGD. Selama 21 hari, hanya enam pasien yang dirujuk keluar karena kebutuhan pelayanan lebih lanjut.
"Ketika pasien itu masuk ke IGD dan ternyata kapasitas ruangannya penuh, kami tetap berupaya menangani pasien tersebut secara maksimal," ucapnya.
Arief menegaskan, RSUD Bandung Kiwari tidak menutup pelayanan IGD di tengah lonjakan kunjungan. Setiap pasien tetap menjalani pemeriksaan, dan pemilahan berdasarkan tingkat kegawatan melalui sistem triase.
"Di tengah lonjakan ini, kami tidak pernah menutup pintu. Bagi siapa pun pasien yang datang, tetap kami periksa dan dipilah sesuai dengan kegawatan melalui proses triase," ujar dia.
Pasien dengan kondisi mengancam nyawa menjadi prioritas penanganan. Sementara pasien dengan kondisi ringan, dan stabil atau masuk kategori triase hijau dapat diarahkan ke layanan rawat jalan.
"Cukup banyak juga pasien sebenarnya dalam kondisi ringan dan stabil. Ketika itu triase hijau, maka sesungguhnya bisa dilayani dan lebih cepat di poli rawat jalan," tuturnya.
Dia mengatakan, pasien dengan kondisi ringan cukup banyak datang setelah jam pelayanan poli berakhir. Masyarakat memilih IGD karena berharap mendapat penanganan lebih cepat, terutama saat kondisi anak membuat orang tua khawatir.
Arief meminta, masyarakat memahami perbedaan layanan IGD dengan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Kondisi seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, pendarahan hebat atau kecelakaan perlu mendapat penanganan di IGD.
"Datanglah ke IGD kalau memang keadaannya darurat. Untuk keluhan yang lebih ringan, ke Puskesmas, ke klinik atau bisa di kami ada poli rawat jalan," ujar dia.
Di sisi lain, RSUD Bandung Kiwari mencatat tingkat keterisian tempat tidur atau BOR masih sekitar 74 persen. Rumah sakit memiliki kapasitas 333 tempat tidur rawat inap.
Dia menjelaskan, kepadatan IGD tidak semata-mata menunjukkan seluruh tempat tidur rumah sakit telah penuh. Proses pemindahan pasien dari IGD ke ruang rawat inap, tetap membutuhkan waktu sesuai kondisi medis dan ketersediaan ruangan.
"Kita mempercepat perpindahan pasien yang sudah stabil dari IGD ke ruang rawat inap. Kemudian juga pemulangan pasien yang sudah layak pulang dengan kontrol lanjutan ke poli," jelasnya.
Rumah sakit juga mengusulkan tambahan perawat dan dokter umum di ruang perawatan. Rotasi tenaga kesehatan, dilakukan agar pelayanan tetap berjalan di tengah meningkatnya jumlah pasien.
Arief juga mendorong koordinasi rujukan melalui sistem rujukan terintegrasi (Sisrute). Konfirmasi sebelum pasien dikirim dapat membantu rumah sakit mengetahui ketersediaan tempat dan mengantisipasi kepadatan.
"Kami sedang siapkan koordinasi dengan Dinas Kesehatan agar mungkin setiap rujukan dikonfirmasi terlebih dahulu," pungkas dia. (yogo triastopo/gin)
Editor : Inilahkoran

