Darurat Sampah Kabupaten Cirebon: Krisis Nyata Ancam Warga

PERSOALAN sampah di Kabupaten Cirebon masuk tahap kritis. Jumlah produksi per hari tak sebanding kemampuan pengangkutan dan kapasitas TPA.

Darurat Sampah Kabupaten Cirebon: Krisis Nyata Ancam Warga
OVERLOAD: Potret aktivitas pengangkutan sampah di TPA Gunung Santri. Keterbatasan armada dan tingginya volume sampah menjadi tantangan dalam penanganan sampah setiap hari di Kabupaten Cirebon.Bukan karena warganya tidak membuang sampah, melainkan karena armada truk yang menjadi “urat nadi” pengangkutan sangat minim.

Oleh : Maman Suharman

Di balik hiruk-pikuk keseharian warga Kabupaten Cirebon, ada beban berat seberat 1.200 hingga 1.260 ton lebih sampah yang diproduksi setiap harinya.

Angka raksasa ini bukan sekadar statistik di atas kertas Dinas Lingkungan Hidup (DLH), melainkan gambaran nyata dari ancaman krisis lingkungan yang kian mendekat ke halaman rumah warga.

Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terik, para petugas kebersihan bertaruh dengan waktu dan keterbatasan.

Di wilayah timur, sebuah ironi besar terjadi. TPA Kubangdeleg yang sejatinya siap menampung sisa-sisa aktivitas masyarakat hanya bisa menerima sekitar 100 ton sampah per hari.

Bukan karena warganya tidak membuang sampah, melainkan karena armada truk yang menjadi “urat nadi” pengangkutan sangat minim.

Bayangkan saja, hanya ada sekitar 20 unit kendaraan yang harus berjuang menyisir ruas jalan dan permukiman di 18 kecamatan. Sebuah misi yang hampir mustahil untuk menyapu bersih semua sudut wilayah timur.

“Untuk Kubangdeleg, sampah yang masuk sekitar 100 ton per hari. Salah satu kendalanya memang kendaraan.

Armada yang ada hanya sekitar 20 kendaraan, sementara harus melayani 18 kecamatan,” ujar Suyanto, Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan DLH Kabupaten Cirebon, Senin (21/9).

Selain itu, persoalan di Kubangdeleg bukan hanya menyangkut jumlah sampah yang masuk. Pemerintah daerah sebenarnya memiliki rencana untuk mengembangkan sistem pengolahan sampah di lokasi tersebut sehingga sampah tidak sekadar ditumpuk atau dibuang.

Namun, menurut Suyanto, rencana pengolahan tersebut hingga kini masih sebatas rencana dan belum terealisasi.

Bergeser ke wilayah barat, ceritanya berubah menjadi kecemasan yang berbeda. Truk-truk sampah di sini bergerak dua kali lipat lebih banyak, mengangkut hingga 250 ton sampah setiap harinya menuju TPA Gunung Santri.

Namun, pasokan sampah yang melimpah ini justru menjadi lonceng kematian bagi tempat pemrosesan tersebut.

Gunung Santri kini sedang menjerit. Tempat penampungan yang telah setia menampung sisa peradaban warga Cirebon selama lebih dari 15 tahun itu kini telah mencapai batas maksimalnya.

Gunung Santri sudah overload, kewalahan, dan tak lagi mampu menahan gunungan limbah yang terus datang tanpa henti.“Kalau Gunung Santri memang sudah overload,” keluh Suyanto.

“Sampah yang masuk bisa sekitar 250 ton per hari karena jumlah kendaraannya juga lebih banyak, sekitar dua kali lipat dibandingkan wilayah Kubangdeleg.” Krisis ini melukiskan potret dua wajah dilema yang nyata di Cirebon: di satu sisi sampah tertahan di lingkungan warga karena kurangnya roda pengangkut, dan di sisi lain, bumi penampungannya sudah terlalu lelah dan sesak untuk menerima lebih banyak lagi.

“Artinya, masih terdapat volume sampah dalam jumlah besar yang harus ditangani melalui sistem lainnya ataupun belum terangkut secara optimal,” Jelas Suyanto.

Jika tidak ada solusi nyata, tumpukan ini bukan lagi sekadar urusan kedinasan, melainkan masalah kenyamanan hidup setiap jiwa yang tinggal di sana.

“Pemerintah daerah harus berpacu dengan produksi sampah setiap hari, keterbatasan kendaraan, kapasitas TPA hingga belum terealisasinya fasilitas pengolahan sampah,” pungkas Suyanto. (bsf )


Editor : Inilahkoran