DCDC Pengadilan Musik Adili Penyanyi Jazz Ardihto Pramono
Setelah selama 8 bulan tidak mengadili musisi berbakat di tanah air akibat Pandemi Covid-19. Djarum Coklat Dot Com (DCDC) Pengadilan Musik kembali menghadirkan talenta-talenta musisi dari berbagai daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Setelah selama 8 bulan tidak mengadili musisi berbakat di tanah air akibat Pandemi Covid-19. Djarum Coklat Dot Com (DCDC) Pengadilan Musik kembali menghadirkan talenta-talenta musisi dari berbagai daerah.
Namun, tidak seperti biasanya yang digelar secara terbuka. Pengadilan musik kali ini digelar secara terbatas dan virtual atau daring, yang dapat disaksikan disaluran Youtube DCDC TV.
Lewat program ini, para musisi akan menyandang predikat sebagai Terdakwa, harus menghadapi berbagai tuntutan yang dilontarkan oleh Jaksa Penuntut.
Pada Pengadilan Musik edisi ke-42 kali ini, musisi muda Ardhito Pramono diadili oleh dua Jaksa Penuntut, yaitu Budi Dalton dan Pidi Baiq. Kursi Pembela ditempati oleh Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung. Pengadilan dipimpin oleh seorang Hakim yaitu Man (Jasad). Sementara itu, jalannya persidangan akan diatur oleh Eddi Brokoli sebagai Panitera.
Untuk diketahui sebelumnya, Terdakwa Ardhito Pramono merilis mini album perdana dengan judul "Ardhito Pramono" pada 2017 lalu. Kemudian ditahun yang sama kembali merilis mini album bertajuk Playlist Vol. 2.
Tidak hanya sampai disitu, Pada tahun 2019, Ia kembali merilis mini album "Letter to My 17 Year Old'. Juga ada karya lain dari Ardhito yang ikut mewarnai khazanah perfilman Indonesia dengan melepas single yang menjadi soundtrack untuk film seperti 'Susah Sinyal dan "Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini".
Pada tahun 2020 Ardhito Pramono melepas EP terbaru, "Craziest Thing Happened in My Backyard" yang menjadi album mini keempatnya. Dimana dalam mini album tersebut, memuat sisi personal dan gelap Ardhito Pramono.
Dalam persidangan, Ardhito Pramono mengungkapkan, dirinya memilih jazz sebagai musiknya dan menjadikan musik tahun 40an sebagai inspirasinya untuk berkarya. Dia menjelaskan, sang kakek lah yang menjadi inspirasi dalam bermain musik Jazz.
"Saya tertarik akan jazz, karena eyang saya juga penyanyi dan dulu sering bernyanyi di istana kepresidenan pada zaman Bung Karno. Dan darinya saya tahu musik zaman dulu dan tahun 40an, termasuk jazz," ungkapnya pada pengadilan musik DCDC di Studio Lima, Jln. Jakarta, Kota Bandung, Jumat (9/10/2020) malam.
Mengusung genre jazz populer, Ardhito berkembang menjadi musisi hits masa kini. Dia memiliki keinginan untuk mengubah stigma masyarakat tentang musik jazz yang sulit.
"Jazz itu musik rakyat, karena didalamnya ada keroncong dan genre musik merakyat lainnya. Maka saya disini berusaha mengenalkan anak muda untuk cinta sama musik jazz," ujar Ditho.
Sementara itu, Marketing Manager Djarum Cokelat Agus Dani Hartono mengungkapkan, kehadiran Dhito pada pengadilan musik virtual bisa memberikan kejutan bagi Cokelat Friends (sebutan penonton Pengadilan Musik di rumah).
"Pengadilan musik regulernya digelar setiap bulannya dengan bintang tamu para musisi, disebabkan pandemi Covid-19 kegiatan tersebut berhenti selama 8 bulan dan dibuat virtual," ujar Dani.
Dani memastikan jumlah penonton yang datang sangat dibatasi. Hanya tamu undangan dan kru produksi yang boleh datang ke lokasi. Sedangkan acara ditayangkan secara live streaming melalui kanal Youtube 'DCDC TV'.
Di hari penayangan, ribuan penonton sudah bergabung menyaksikan penampilan Dhito dengan rompi terdakwa khas Pengadilan Musik.
"Setalah 8 bulan libur, menghadapi pandemi kami harus siapkan strategi. Untuk kali ini dibuat sedikit berbeda dan dibuat sifatnya virtual dan tidak terbuka untuk umum untuk di studio. Tentunya dengan protokol kesehatan, kami akan lihat evaluasinya dari episode ini untuk kegiatan di bulan berikutnya," pungkasnya. (Ridwan Abdul Malik)
Editor : Doni Ramdhani


