Dedi Mulyadi Bongkar Bahaya Tramadol dan Miras, Picu Gelombang Kejahatan di Jabar

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi merespons terkait maraknya peredaran tramadol, minuman keras, dan obat-obatan terlarang yang disebut menjadi pemicu aksi kriminal.

Dedi Mulyadi Bongkar Bahaya Tramadol dan Miras, Picu Gelombang Kejahatan di Jabar
Dedi Mulyadi menilai penyalahgunaan obat-obatan tertentu telah menciptakan keberanian semu yang mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal. (dok)

INILAHKORAN.ID - Gubernur Jabar Dedi Mulyadi merespons serius terkait maraknya peredaran tramadol, minuman keras (miras), dan obat-obatan terlarang yang disebut menjadi pemicu lahirnya berbagai aksi kriminal.

Menurut Dedi Mulyadi, persoalan keamanan di Jabar tidak hanya berkaitan dengan pelaku kejahatan, tetapi juga dengan lingkungan yang memungkinkan bisnis ilegal terus tumbuh. Dia menilai penyalahgunaan obat-obatan tertentu telah menciptakan keberanian semu yang mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal.

Dedi menyebut, Jabar saat ini menjadi wilayah yang rawan dimanfaatkan oleh jaringan kejahatan terorganisir. Berbagai modus kejahatan mulai dari pencopetan, penjambretan, pencurian dengan kekerasan, pembegalan hingga tindak pidana perdagangan orang (TPPO) menjadi ancaman yang harus segera ditekan.

"Jawa Barat menjadi daerah yang sangat empuk untuk dilakukannya operasi kejahatan yang terstruktur di berbagai tempat. Mulai dari pencopetan, penjambretan, pencurian, pembegalan, TPPO, hingga berbagai jenis kejahatan lainnya," ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Rabu (5/8/2026).

Dedi menyoroti peredaran tramadol yang menurutnya telah disalahgunakan oleh oknum tertentu. Obat yang seharusnya digunakan dalam kebutuhan medis tersebut justru dianggap menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perilaku pelaku kejahatan.

Dia mengungkapkan, konsumsi tramadol dapat membuat seseorang kehilangan kendali dan meningkatkan keberanian untuk melakukan tindakan berbahaya.

"tramadol dikonsumsi sehingga melahirkan orang dalam keadaan nyalinya tinggi. Berani membacok, berani menjambret, berani mencopet, bahkan berani membunuh," ucapnya.

Sebab itu, Dedi menegaskan pemberantasan peredaran tramadol, miras, dan obat-obatan ilegal harus dilakukan secara menyeluruh. Dia menilai penanganan persoalan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat.

Menurutnya, lingkungan harus menjadi benteng pertama dalam mencegah berkembangnya aktivitas ilegal yang berpotensi melahirkan tindak kriminal baru.

"Jangan biarkan lingkungan kita menjadi tempat orang berbisnis gelap yang melahirkan kejahatan-kejahatan baru. Orang minum tramadol bisa berbuat kejahatan, orang dalam keadaan mabuk juga bisa berbuat kejahatan," katanya.

Guna memperkuat pengawasan, Dedi meminta seluruh jajaran pemerintahan daerah bersama aparat keamanan memperkuat koordinasi hingga tingkat paling bawah.

Dia menyebut peran RT, RW, kepala desa, lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Polsek, Polres, hingga Polda Jawa Barat sangat penting dalam membangun sistem pencegahan kejahatan di lingkungan masyarakat.

Selain itu, Dedi mengajak warga agar tidak ragu melaporkan aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan peredaran obat-obatan terlarang maupun tindak kriminal lainnya.

"Hilangkan rasa takut, karena rasa takut itu membuat mereka nyaman beroperasi," pintanya.

Dedi berharap, gerakan bersama antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dapat mempersempit ruang gerak pelaku bisnis gelap sekaligus menekan angka kriminalitas di Jabar.

Dia menargetkan Jabar menjadi daerah yang lebih aman dan nyaman, dengan menutup celah bagi peredaran zat berbahaya yang berpotensi memicu kejahatan.


Editor : Doni Ramdhani