Di Atas Skywalk yang Sepi, Pedagang Menunggu Nasib Teras Cihampelas
Teras Cihampelas diresmikan pada 2017 oleh Ridwan Kamil saat menjabat Wali Kota Bandung. Pembangunannya menelan anggaran sekitar Rp48,5 miliar. kini akan dibongkar
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di antara deretan kios yang tertutup dan lantai beton yang mulai kusam, Nana masih setia membuka lapaknya setiap hari. Di teras Cihampelas—skywalk yang dulu digadang-gadang menjadi ikon baru Kota Bandung—ia menjajakan minuman saset dan kaos, berharap ada pembeli yang mampir meski harapan itu kian menipis.
Kini, pembongkaran Teras Cihampelas bukan lagi sekadar wacana. Pemerintah Kota Bandung menyatakan bangunan tersebut berisiko dan tidak memenuhi ketentuan keselamatan. Di sisi lain, para pedagang kecil seperti Nana justru berada di ujung kecemasan: kehilangan ruang usaha yang selama ini menjadi tumpuan hidup.
Teras Cihampelas diresmikan pada 2017 oleh Ridwan Kamil saat menjabat Wali Kota Bandung. Pembangunannya menelan anggaran sekitar Rp48,5 miliar. Skywalk sepanjang 250 meter itu sempat menjadi magnet wisata baru, mempertemukan pejalan kaki, pedagang, dan wisatawan di atas riuh Jalan Cihampelas.
Namun kejayaan itu tak berlangsung lama.
“Rame mah pas awal-awal, satu setengah tahun lah. Setelah Covid, udah nggak rame,” ujar Nana salah seorang pedagang di Teras Cihampelas.
Pandemi menjadi titik balik. Sejak saat itu, pengunjung berkurang drastis. Teras yang dulu dipenuhi tawa dan obrolan wisatawan kini lebih sering sunyi. Dalam tujuh jam berjualan, Nana mengaku paling banyak hanya membawa pulang keuntungan tak sampai Rp100 ribu.
Pantauan di lokasi menunjukkan, pengunjung yang datang kebanyakan hanyalah karyawan dari pusat perbelanjaan dan kantor di sekitar Cihampelas. Mereka naik sebentar untuk ngopi, lalu pergi.
“Karyawan aja. Yang kerja deket sini. Kalau wisatawan mah udah jarang pisan,” kata Nana.
Ia masih ingat masa ketika dagangannya laris. Orang-orang dari berbagai kota mampir, membeli kaos, berbincang ringan. Kini, yang tersisa hanya pedagang saling menyapa satu sama lain.
“Sekarang mah yang ngobrol pedagang sama pedagang. Libur panjang juga nggak ngaruh buat yang di atas,” ucapnya lirih.
Bagi Nana, berjualan di Teras Cihampelas bukan sekadar mencari untung. Itu satu-satunya sumber penghasilan. Ia menggantungkan hidup sepenuhnya pada lapak kecil di atas skywalk itu.
“Sebenernya nggak betah. Tapi mau gimana lagi? Hidup harus jalan,” katanya.
Di tengah keterpurukan itu, kabar rencana pembongkaran justru datang. Nana berharap, bila pemerintah tetap ingin merobohkan Teras Cihampelas, pembongkaran dilakukan bertahap—dimulai dari bagian yang sudah tak lagi ditempati pedagang.
Kalau pun dibatalkan, ia meminta satu hal sederhana: perbaikan fasilitas dan pengisian kembali kios-kios kosong. Dari total 192 kios, hanya sekitar sembilan yang masih bertahan.
“Kalau kiosnya kosong semua, orang juga ngapain naik ke atas? Capek, tapi nggak ada apa-apa,” ujarnya.
Nana juga berharap pemerintah menyiapkan relokasi yang jelas bila pembongkaran benar-benar dilakukan. Bukan sekadar memindahkan, tetapi menyediakan tempat berdagang lengkap dengan kios.
“Kita butuh biaya angkut, butuh jongko. Kalau nggak disiapin, kita dari mana dananya? Modal aja sekarang susah,” katanya.
Di atas skywalk yang kini sebagian aksesnya ditutup, Nana tetap berjualan. Ia tak tahu kapan pembongkaran dimulai, atau ke mana ia akan pergi setelahnya. Yang ia tahu, setiap hari ia datang, membuka lapak, dan menunggu—antara pembeli yang jarang muncul, atau keputusan pemerintah yang akan menentukan hidupnya.
Di Teras Cihampelas, mimpi besar sebuah kota perlahan runtuh. Dan di bawah bayangnya, pedagang kecil seperti Nana hanya berharap tak ikut roboh bersama bangunan yang dulu dijanjikan sebagai masa depan.
Editor : Ahmad Sayuti

