Di Balik Kubah Raksasa Masjid Raya Bandung, Ada Kisah Empat Arsitek Kota Kembang
Masjid Raya Bandung merupakan karya arsitektur monumental yang memadukan teknologi konstruksi modern dengan nilai budaya lokal.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Masjid Raya Bandung tidak hanya dikenal sebagai ikon religi di jantung Kota Bandung, tetapi juga sebagai karya arsitektur monumental yang memadukan teknologi konstruksi modern dengan nilai budaya lokal. Wajah masjid yang berdiri megah saat ini merupakan hasil pemikiran empat arsitek ternama asal Bandung.
Keempat perancang tersebut adalah Ir. H. Keulman, Ir. H. Arie Atmadibrata, Ir. H. Nu’man, dan Prof. Dr. Slamet Wirasonjaya. Mereka merancang Masjid Raya Bandung dengan pendekatan yang menghormati sejarah, sekaligus menjawab kebutuhan ruang ibadah modern.
Dalam konsep awal, para arsitek berupaya mempertahankan sebagian elemen Masjid Agung Bandung lama. Beberapa di antaranya adalah jalur penghubung masjid dengan kawasan Alun-Alun Bandung yang melintasi Jalan Alun-Alun Barat, serta dinding depan masjid dengan motif menyerupai sisik ikan.
Perubahan paling signifikan pada bangunan lama adalah penggantian atap limas tradisional menjadi sebuah kubah utama berbentuk setengah bola dengan diameter sekitar 30 meter. Kubah ini menjadi pusat visual sekaligus simbol baru Masjid Raya Bandung.
kubah raksasa dengan Teknologi Space Frame
Untuk menopang kubah berukuran besar tersebut, digunakan teknologi konstruksi space frame yang dirancang agar lebih ringan namun tetap kokoh. Rangka kubah kemudian dilapisi material metal khusus yang diproses melalui pemanasan bersuhu tinggi.
Selain kubah utama, Masjid Raya Bandung juga dilengkapi dua kubah tambahan berdiameter sekitar 25 meter. Kubah-kubah ini berada di atas bangunan tambahan di sisi masjid dan menggunakan material transparan, memungkinkan cahaya alami masuk dan menciptakan suasana ruang yang lebih terang serta sejuk.
Menara Kembar dan Panorama Kota Bandung
Bangunan tambahan masjid dibangun di atas lahan yang sebelumnya merupakan bagian dari Jalan Alun-Alun Barat. Di area ini berdiri dua menara kembar yang mengapit bangunan utama masjid.
Awalnya, menara dirancang setinggi 99 meter sebagai simbol Asmaul Husna. Namun, tinggi tersebut kemudian disesuaikan menjadi 81 meter atas pertimbangan keselamatan penerbangan, sesuai masukan dari pengelola Bandara Husein Sastranegara.
Kini, kedua menara tersebut dapat diakses pengunjung. Dari lantai teratas, tepatnya lantai 19, pengunjung dapat menikmati pemandangan Kota Bandung secara menyeluruh dengan sudut pandang 360 derajat.
Alun-Alun sebagai Ruang Publik Modern
Perombakan Masjid Raya Bandung juga mencakup penataan ulang halaman depan. Area parkir kendaraan ditempatkan di ruang bawah tanah (basement), sementara bagian atasnya difungsikan sebagai taman terbuka yang menyatu dengan Alun-Alun Bandung.
Konsep ini merupakan upaya menghidupkan kembali fungsi alun-alun sebagai ruang publik tempat warga berkumpul dan berinteraksi, sebagaimana peran alun-alun di masa lalu. Basement parkir tersebut sempat direncanakan pula sebagai ruang penataan bagi pedagang kaki lima.
Interior Lapang Bernuansa Budaya Sunda
Bagian dalam Masjid Raya Bandung terbagi menjadi dua area utama, yaitu ruang depan dan ruang salat utama. Ruang depan berfungsi sebagai aula serbaguna yang digunakan untuk pengajian, akad nikah, maupun tempat beristirahat bagi warga yang singgah.
Sementara itu, ruang salat utama berada di area terpisah dan dihubungkan dengan jembatan. Di bawah jembatan tersebut terdapat fasilitas wudhu. Ruang salat utama dirancang luas dan bertingkat dua untuk menampung jamaah dalam jumlah besar.
Interior bangunan tambahan dihiasi ornamen ukiran Islami yang mengangkat seni dan budaya Sunda. Dinding masjid menggunakan batu alam berkualitas tinggi, sementara atap bangunan kini didominasi kubah besar di bagian tengah serta kubah-kubah lebih kecil di sisi kiri dan kanan.
Editor : Firda Rachmawati


