Sejarah Dua Menara Masjid Raya Bandung Jadi Ikon Penjaga Iman di Jantung Kota

Dua menara kembar Masjid Raya Bandung memiliki sejarah tersendiri dalam pembangunannya.

Sejarah Dua Menara Masjid Raya Bandung Jadi Ikon Penjaga Iman di Jantung Kota
sejarah menara Masjid Raya Bandung

INILAHKORAN.ID - Dua menara kembar yang menjulang di Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat telah lama menjadi ikon lanskap Kota Bandung. Tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari arsitektur masjid, keberadaan menara ini menyimpan sejarah, filosofi, dan makna simbolis yang mencerminkan perjalanan spiritual dan budaya masyarakat Jawa Barat.

Awal Mula Gagasan menara Kembar

Dua menara Masjid Raya Bandung dibangun sebagai bagian dari proyek penataan ulang kawasan Alun-Alun Bandung pada awal tahun 2000-an. Pembangunan masjid dan alun-alun dirancang sebagai satu kesatuan ruang publik, dengan masjid menjadi pusat orientasi visual dan spiritual kota.

Para perancang masjid menghadirkan dua menara kembar untuk mempertegas identitas Masjid Raya Bandung sebagai masjid provinsi. Keberadaan menara tidak hanya menambah kemegahan bangunan, tetapi juga menjadi simbol keseimbangan dan keselarasan.

Dalam perencanaan awal, kedua menara Masjid Raya Bandung dirancang memiliki ketinggian 99 meter. Angka ini dipilih sebagai simbol Asmaul Husna, 99 nama indah Allah dalam ajaran Islam.

Namun, rencana tersebut kemudian disesuaikan. Atas pertimbangan keselamatan penerbangan dan masukan dari pengelola Bandara Husein Sastranegara, ketinggian menara dikurangi menjadi sekitar 81 meter. Meski mengalami perubahan, nilai filosofis dan fungsi simboliknya tetap dipertahankan.

Secara tradisional, menara masjid berfungsi sebagai tempat muazin mengumandangkan adzan. Di Masjid Raya Bandung, fungsi menara berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

Kedua menara kini dapat diakses oleh pengunjung. Melalui tangga dan lift, pengunjung dapat naik hingga lantai paling atas, tepatnya lantai 19. Dari titik ini, terbentang panorama Kota Bandung dengan sudut pandang 360 derajat.

Keberadaan menara sebagai ruang pandang menjadikan Masjid Raya Bandung tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga destinasi wisata religi dan edukasi sejarah.

Simbol Penjaga Alun-Alun Bandung

Posisi dua menara yang mengapit bangunan utama masjid menciptakan kesan seolah menjadi “penjaga” kawasan Alun-Alun Bandung. Dalam konteks tata kota tradisional Sunda, masjid dan alun-alun merupakan dua elemen yang saling melengkapi.

menara kembar ini memperkuat peran masjid sebagai poros spiritual sekaligus penanda ruang kota, memudahkan orientasi visual masyarakat dan pengunjung.

Dari sisi arsitektur, menara Masjid Raya Bandung dirancang dengan pendekatan modern. Struktur bangunan memanfaatkan teknologi konstruksi mutakhir yang memungkinkan menara berdiri kokoh namun tetap ramping dan estetis.

Meski demikian, sentuhan nilai Islam dan budaya lokal tetap terasa melalui proporsi bangunan, elemen geometris, dan keterkaitannya dengan kubah utama masjid.

Seiring waktu, dua menara Masjid Raya Bandung telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas visual Kota Bandung. Banyak wisatawan menjadikan menara ini sebagai latar foto, sementara warga lokal memaknainya sebagai simbol kebanggaan dan keteduhan spiritual di tengah hiruk pikuk kota.

Keberadaan menara kembar ini menegaskan bahwa Masjid Raya Bandung bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga ruang sejarah, budaya, dan pertemuan masyarakat.


Editor : Firda Rachmawati