Di Karawang, RDF Sukses Tembus Pasar Industri
Pemkab Karawang sukses memasarkan Refuse Derived Fuel (RDF) yang merupakan bahan bakar alternatif pengganti batu bara dari sampahi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Karawang- Pemkab Karawang sukses memasarkan Refuse Derived Fuel (RDF) yang merupakan bahan bakar alternatif pengganti batu bara dari sampahi.
Produksi RDF tidak membutuhkan tehnologi berat namun memiliki pasar yang jelas. Selain itu, pengelolaan RDF otomatis mengurangi tumpukan sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah terpadu (TPST).
Kepala Bidang Kebersihan, Penanganan Sampah dan Limbah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karawang, Willy mengatakan saat ini ada tiga TPST yang memproduksi RDF yaitu TPST Mekarjati, Jayakerta dan Cirejak. Masing-masing memproduksi 20 ton RDF dari sampah yang sudah dikelola.
“Satu hari kami produksi RDF 60 ton RDF dari tiga TPST yang sudah ditunjuk. Kedepan jumlahnya akan kami tambah terus untuk mengurangi sampah di setiap TPST,” kata Willy, Senin (13/7).
Menurut Willy ada dua keuntungan Pemkab Karawang jika memproduksi RDF. Pertama bisa mengurangi tumpukan sampah dan kedua bisa menjadi bahan bakar pengganti batu bara yang dijual ke industri.
“Dari segi pasar RDF ini punya nilai jual karena menjadi alternatif pengganti batu bara. Makanya kami akan tingkatkan produksinya sebanyak 600 ton perhari dan sekarang sedang proses ke arah sana,” katanya.
Willy mengatakan saat ini DLH Karawang sudah mulai melakukan penjualan RDF ke perusahaan industri. Salah satunya dengan pabrik semen PT. Indocement yang menjadi pembeli pertama.
Setiap hari Pemkab Karawang akan memasok 20 ton RDF ke PT. Indocement.
“Sekarang dalam proses perjanjian kerja sama (PKS) kemudian setelah itu baru melakukan pengiriman ke PT. Indocement,” katanya.
Menurut Willy PT. Indocement sangat membutuhkan bahan bakar alternatif pengganti batu bara dalam proses produksinya. Ketika ditawarkan RDF produk hasil dari Karawang dan setelah itu dinyatakan sesuai dengan spesifikasi yang mereka minta.
“Kami sudah mengundang sekitar 27 calon offtaker pengguna batu bara. Salah satunya PT.Indocement dan ternyata mereka berminat RDF Karawang dan sekarang sedang proses PKS,” katanya.
Berdasarkan PKS antara DLH dengan PT.Indocemet maka setiap bulan DLH memasok 600 ton RDF atau 20 ton setiap hari.
“RDF produksi Karawang punya nilai jual Rp 350 ribu per ton karena sudah memenuhi spesifikasi grade A sesuai keinginan mereka,” katanya. (nila kusuma)
Editor : Inilahkoran

