Di Tengah Tantangan Iklim dan Sosial, Perempuan Kota Bandung Terus Didorong Berdaya

Peringatan Hari Ibu (PHI) 2025 di Kota Bandung, menjadi momentum penegasan peran strategis perempuan tidak hanya sebagai pilar keluarga. Tetapi juga sebagai penggerak pembangunan, dan ekonomi di tengah berbagai tantangan mulai dari cuaca ekstrem hingga isu ketenagakerjaan.

Di Tengah Tantangan Iklim dan Sosial, Perempuan Kota Bandung Terus Didorong Berdaya
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, PHI 2025 mengusung tema nasional “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045”

INILAHKORAN.ID - Peringatan Hari Ibu (PHI) 2025 di Kota Bandung, menjadi momentum penegasan peran strategis perempuan tidak hanya sebagai pilar keluarga. Tetapi juga sebagai penggerak pembangunan, dan ekonomi di tengah berbagai tantangan mulai dari cuaca ekstrem hingga isu ketenagakerjaan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, PHI 2025 mengusung tema nasional “perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045”. Tema tersebut, mencerminkan pengakuan negara terhadap kontribusi perempuan di sektor publik. Baik pemerintahan maupun perekonomian.

Peringatan Hari Ibu ini, merupakan bentuk penghargaan dan pengakuan kita terhadap peran perempuan. Khususnya di sektor publik. Hari ini kita melihat langsung perempuan-perempuan pengusaha, dan wirausahawati menerima penghargaan yang menunjukkan peran penting perempuan dalam menggerakkan ekonomi,” kata Farhan pada Senin 22 Desember 2025.

Ia juga menyoroti posisi perempuan sebagai kelompok rentan, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang belakangan melanda Kota Bandung. Ia menyebut, di sejumlah wilayah rawan bencana ditemukan perempuan yang harus menanggung beban sosial dan ekonomi yang berat.

“Di daerah rawan longsor seperti Cidadap, kami menemukan rumah yang terancam rubuh dan dihuni oleh seorang ibu tunggal dengan tiga anak. Tingkat kerentanannya tentu cukup tinggi,” ucapnya.

Selain kerentanan bencana, isu kekerasan terhadap perempuan juga menjadi perhatian pemerintah kota. Farhan menilai, meningkatnya laporan kasus kekerasan bukan berarti kasus bertambah melainkan karena kesadaran masyarakat yang semakin baik.

“Sekarang masyarakat mulai paham, mulai berani dan mau melaporkan jika terjadi kekerasan terhadap perempuan. Dulu bisa saja kasus itu dipendam dua sampai tiga tahun karena takut atau malu. Sekarang ini justru sisi positifnya, karena penanganan kasus bisa dilakukan secara komprehensif,” ujar dia.

Dalam aspek ketenagakerjaan, ia mengakui jumlah perempuan yang bekerja masih lebih sedikit dibanding laki-laki yang dipengaruhi oleh faktor budaya. Namun, pemerintah kota terus mendorong peningkatan produktivitas perempuan melalui berbagai program. Salah satunya kewirausahaan.

“Kami percaya perempuan yang berdaya secara ekonomi akan memberikan dampak positif bagi keluarga dan anak-anaknya,” jelasnya.

Farhan juga menyampaikan indeks ketimpangan gender di Kota Bandung menunjukkan tren membaik. Saat ini angkanya berada di 0,245, yang menandakan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan semakin kecil. Indeks pembangunan manusia turut meningkat, meski indeks pemberdayaan gender masih perlu diperkuat.

“Fokus kami sekarang adalah meningkatkan produktivitas perempuan sebagai bagian dari pemberdayaan, dan kesetaraan. Dan ini diharapkan sejalan dengan kebijakan penetapan upah minimum,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bandung, Uum Sumiati menekankan, Peringatan Hari Ibu tidak semata-mata dimaknai sebagai penghormatan terhadap peran domestik seorang ibu.

Peringatan Hari Ibu adalah momentum untuk memberikan penghargaan terhadap perjuangan kaum perempuan yang ikut terlibat dalam sejarah perjuangan bangsa,” kata Uum Sumiati.

Ia menjelaskan, sejak pasca Sumpah Pemuda perempuan telah bersatu dan mengambil peran penting sebagai ibu bangsa dalam mengisi kemerdekaan. Terutama dalam memperjuangkan kesetaraan di berbagai bidang pembangunan.

perempuan harus memiliki akses, manfaat dan partisipasi yang setara dalam pembangunan. Itulah esensi Hari Ibu yang terus kami dorong. Momentum ini diharapkan menjadi pengingat bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya isu kesetaraan. Tetapi juga kunci dalam membangun ketahanan sosial, ekonomi dan keluarga menuju Indonesia Emas 2045," ucapnya.***


Editor : JakaPermana