DKPP Jabar Dorong Perbaikan Konsumsi Masyarakat, Tekan Prevalensi Stunting

Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan alias DKPP Jabar mendorong perbaikan konsumsi masyarakat guna menekan prevalensi stunting.

DKPP Jabar Dorong Perbaikan Konsumsi Masyarakat, Tekan Prevalensi Stunting
Saat ini, DKPP Jabar berpatokan pada prevalensi stunting di Jabar yang masih di angka 21,7 persen. Ke depan, angka itu ditargetkan turun menjadi 14 persen di 2025 untuk mengejar zero stunting pada 2030. (yuliantono)

INILAHKORAN, Bandung - Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan alias DKPP Jabar mendorong perbaikan konsumsi masyarakat guna menekan prevalensi stunting.

Saat ini, DKPP Jabar berpatokan pada prevalensi stunting di Jabar yang masih di angka 21,7 persen. Ke depan, angka itu ditargetkan turun menjadi 14 persen di 2025 untuk mengejar zero stunting pada 2030.

Sekretaris DKPP Jabar Indriantari mengatakan, salah satu penyebab stunting adalah kebiasaan masyarakat yang tidak tepat, pada pola makan dimana kebutuhan gizi tidak seimbang dalam penyajian makan yang akan dikonsumsi.

"Masyarakat kita belum membiasakan untuk mengonsumsi, isi piring itu lengkap. Ada proteinnya, karbohidratnya, kemudian ada sayur, buah dan sebagainya," ujar Indriantari usai Bewara Jawa Barat (BEJA) Volume 7 bertajuk Kontes Ternak dan Expo Pangan (KTEP) 2024 di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin 22 Juli 2024.

Kecenderungan masyarakat kata dia, adalah mengonsumsi makanan padat karbohidrat, namun tidak mempertimbangkan makanan penyedia gizi lain.

"Tepung-tepungan banyak, karena yang kita tahu jajanan, makanan yang favorit adalah yang mengandung tepung dan digoreng, itu yang kita harus edukasi," ucapnya.

Sebab itu DKPP Jabar lanjut Indriantari, berfokus pada ibu hamil dan balita, membenahi kandungan gizi dalam pola makan mereka, untuk menekan prevalensi stunting.

Salah satunya dengan melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT), untuk membantu menyosialisasikan pola makan yang benar, memenuhi kebutuhan gizi harian.

"Makanya kita ada (program) ASRI di KWT. Supaya di perkarangan masyarakat, terutama oleh ibu-ibu KWT tersedia sayuran, buah-buahan, bahkan protein hewani," ucapnya.

Sementara Ketua KWT Binangkit Lestari Yulinda menuturkan, pihaknya menggenjot ibu rumah tangga untuk menjadi sumber pengadaan pangan keluarga.

"Kami mengedukasi, juga mengikutsertakan masyaraka terjun langsung di pembibitan, penanaman, panen dan pengolahan hasil," imbuhnya.

Sehingga ibu rumah tangga bisa produktif, memanfaatkan perkarangan keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

"Sedikitnya bisa menekan pengeluaran rumah tangga juga," ucapnya.

Termasuk kebutuhan protein hewani, dimana anggota KWT juga diberi masing-masing 10 ekor ayam petelur, untuk memenuhi kebutuhan gizi.

"Untuk wilayah kami, Alhamdulillah tidak ada (stunting), tapi rawan stunting," ungkapnya.

Sedangkan pangan yang paling diminati oleh KWT kata dia, untuk terus ditingkatkan produksinya adalah tanaman cabai, pakcoy dan kangkung.


Editor : Doni Ramdhani