Harga Daging Sapi Jabar Rp145.888 per Kg, Pemprov Soroti Ketergantungan Pasokan
Harga daging sapi di Jawa Barat mencapai Rp145.888 per kg, atau 4,21 persen di atas HAP. Pemprov Jabar soroti ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Harga daging sapi di Jawa Barat masih berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP). Meski kenaikannya masih dalam kategori aman, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyoroti ketergantungan pasokan dari luar daerah yang menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas pangan.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, rata-rata harga daging sapi di tingkat konsumen pada 12 Agustus 2026 mencapai Rp145.888 per kilogram.
Harga tersebut tercatat Rp5.888 per kilogram atau 4,21 persen lebih tinggi dibandingkan HAP yang ditetapkan sebesar Rp140.000 per kilogram.
Kepala DKPP Jawa Barat, Linda Al Amin, mengatakan kondisi harga daging sapi saat ini masih relatif terkendali. Bahkan, jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya, harga tercatat mengalami penurunan tipis sebesar 0,1 persen.
“Berdasarkan panel harga pangan yang dikumpulkan oleh enumerator pada tingkat konsumen di 37 pasar pemantauan yang tersebar di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat pada 12 Agustus 2026, rata-rata harga daging sapi tercatat sebesar Rp145.888/kg,” kata Linda dalam keterangannya, Jumat (14/8/2026).
Harga Daging Sapi Masih dalam Kategori Aman
Linda menjelaskan, selisih harga daging sapi dengan HAP masih berada dalam batas aman berdasarkan indikator stabilitas harga pangan nasional.
“Berdasarkan indikator stabilitas harga, deviasi kurang dari 10 persen dikategorikan ‘aman’,” ujarnya.
Kendati demikian, Pemprov Jabar tetap melakukan pemantauan secara ketat untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga yang dapat berdampak terhadap inflasi pangan.
Sejumlah langkah dilakukan, mulai dari pengawasan harga secara berkala di tingkat produsen hingga konsumen, menjaga kelancaran distribusi, memperkuat koordinasi dengan pelaku usaha dan pemerintah daerah, hingga menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM).
stok daging sapi Jabar Diproyeksikan Surplus 7.835 Ton
Di tengah harga yang relatif stabil, persoalan pasokan masih menjadi perhatian. Berdasarkan Neraca Pangan Provinsi Jawa Barat, stok akhir daging sapi hingga akhir 2026 diproyeksikan mengalami surplus sekitar 7.835 ton.
Namun, angka tersebut dinilai relatif tipis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Barat yang terus meningkat.
Untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan, Jawa Barat masih membutuhkan pasokan tambahan dari luar daerah maupun impor.
“Stok akhir komoditas daging sapi sebesar 7.835 ton. Stok akhir tersebut berada di posisi yang relatif rendah dengan memproyeksikan pasokan masuk dari luar Jawa Barat sebanyak 91.662 ton,” ungkap Linda.
Pasokan tambahan tersebut berasal dari impor serta sejumlah daerah sentra peternakan, termasuk Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ketergantungan Pasokan Jadi Tantangan Jabar
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun harga daging sapi di Jawa Barat masih berada dalam kondisi terkendali, kebutuhan pasokan provinsi belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi lokal.
Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan pemerintah. Terlebih, perubahan pasokan maupun biaya distribusi dapat berdampak terhadap harga daging sapi di tingkat konsumen.
Karena itu, penguatan produksi dan ketersediaan sapi di Jawa Barat menjadi penting untuk menjaga stabilitas harga, ketahanan pangan, dan ketersediaan daging sapi dalam jangka panjang.***
Editor : JakaPermana


