Dua Puluh Enam Tahun Berakhir di Gerobak

Dua Puluh Enam Tahun Berakhir di Gerobak
BONGKAR MANDIRI: Pedagang membongkar kios secara mandiri di Terminal Cicaheum, Selasa (25/8) lalu. Sebanyak 115 pedagang membongkar kios dagangannya sebagai proses alih fungsi Terminal Cicaheum menjadi depo BRT Bandung Raya.

Oleh: Yogo Triastopo

SETELAH 26 tahun berjualan di Terminal Cicaheum, Nurjaman harus meninggalkan kiosnya. Kini, ia kembali berkeliling dengan gerobak demi menjaga dapur tetap menyala.

Pagi itu, Terminal Cicaheum tak lagi seramai biasanya. Kios-kios yang selama puluhan tahun menjadi tempat para pedagang mencari penghidupan mulai berubah. 

Sebagian telah dibongkar. Barang dagangan dan peralatan usaha dipindahkan, menyisakan ruang-ruang kosong di kawasan yang tengah bersiap memasuki wajah baru. Di antara pedagang yang terdampak, ada Nurjaman.

Selama 26 tahun, terminal itu menjadi bagian dari kesehariannya. Dari tempat itulah dia menjajakan batagor dan bakso tahu, menyapa pelanggan, sekaligus menggantungkan kebutuhan keluarga. Kini, kios yang selama seperempat abad lebih menjadi tempatnya berjualan sudah tak ada.

Namun Nurjaman belum berhenti. Dia mengganti kios dengan gerobak roda. Tak ada lagi tempat tetap untuk menunggu pembeli. Dia harus mendorong dagangannya, berkeliling mencari sudut yang masih memungkinkan untuk berjualan.

“Sekarang pakai roda. Tetap jualan sambil membereskan barang,” kata Nurjaman, Rabu (26/8). 

Keputusan untuk tetap berjualan bukan perkara sederhana. Dia tahu kawasan Terminal Cicaheum sedang ditata untuk pembangunan depo bus rapid transit (BRT). Dia juga paham, perubahan itu membawa konsekuensi bagi pedagang yang selama ini mencari nafkah di sana.

Sebelum pembongkaran, pemerintah telah menyampaikan pemberitahuan kepada para pedagang. Sejumlah pertemuan juga dilakukan untuk membahas rencana penataan kawasan.

“Ada pemberitahuan. Sebelumnya juga sudah beberapa kali menggelar rapat dan menyampaikan mengenai rencana pembongkaran,” ujarnya.

Para pedagang kemudian diminta membereskan kios masing-masing. Barang-barang yang masih dianggap berharga dipindahkan sebelum alat pembongkaran bekerja. Nurjaman pun melakukan hal yang sama.

“Iya, kami membongkar sendiri. Barang-barangnya juga diambil sendiri,” ujarnya.

Dia kemudian menerima kompensasi sebesar Rp6 juta. Nilai tersebut disesuaikan dengan ukuran kios yang sebelumnya dia tempati. Kompensasi itu diterimanya pada Senin (24/8), setelah sejak Jumat (21/8) mulai membereskan kios.

“Mulai hari Jumat, tanggal 21. Kompensasinya dibayarkan hari Senin, tanggal 24,” katanya.

Uang kompensasi mungkin bisa mengganti sebagian kehilangan materi. Namun tidak serta-merta menggantikan tempat yang selama 26 tahun menjadi ruang hidupnya.

Pemerintah sebenarnya telah menyediakan sejumlah alternatif tempat berjualan. Nurjaman menyebut masih terdapat kios yang kosong di Terminal Leuwipanjang, baik di lantai satu maupun lantai dua.

Tetapi dia memilih tetap bertahan di sekitar Cicaheum. Alasannya sederhana: rumah, anak, dan cucunya berada di sekitar kawasan itu.

“Anak-anak saya semuanya di sini, cucu juga di sini. Usaha juga harus di sekitar sini, tidak bisa jauh-jauh,” ucapnya.

Karena itu, gerobak menjadi pilihan paling masuk akal. Dia tidak lagi memiliki kios untuk menunggu pembeli, tetapi masih memiliki tangan untuk mendorong roda dan membawa dagangan.

“Ya, tetap jualan. Tidak menetap di satu tempat. Paling muter-muter untuk mencari tempat berjualan,” katanya.

Hari-hari Nurjaman kini diisi dengan dua pekerjaan sekaligus. Membereskan sisa-sisa kehidupan dari kios lama dan mencari penghasilan dari gerobak baru.

Di tengah kawasan yang semakin berantakan karena proses pembangunan, aroma batagor dan baso tahu masih berusaha bertahan.

“Makanya walaupun kondisi sekarang sudah berantakan seperti ini, saya tetap sambil jualan sambil membereskan barang,” ujarnya.

Bagi Nurjaman, bertahan bukan berarti tidak merasakan beratnya keadaan. Penghasilan dari berjualan harus terus dikejar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Untuk kebutuhan makan sehari-hari saja kadang masih harus tutup lubang gali lubang,” katanya.

Dia bahkan berkelakar tentang satu keinginan sederhana: jika bantuan pemerintah bisa diberikan setiap bulan, mungkin dirinya tak perlu lagi memikirkan usaha.

“Kalau keinginan saya, sekarang diberi uang segitu saja sudah cukup. Tidak perlu usaha lagi, kalau setiap bulan ada bantuan dari pemerintah. Itu kalau ditanya keinginan,” ucapnya.

Tetapi Nurjaman tahu, hidup tidak bisa dijalani dengan menunggu bantuan. “Namanya orang memang harus usaha. Tidak bisa hanya mengandalkan bantuan,” katanya.

Maka gerobak itu kembali didorong. Menariknya, Nurjaman tidak menyimpan penolakan terhadap pembangunan depo BRT. Dia justru mengaku mendukung perubahan tersebut, meski harus kehilangan tempat usaha yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama 26 tahun.

“Ya, harus mendukung. Harus ikhlas,” ujarnya.

Kisah Nurjaman adalah satu dari banyak cerita yang ikut bergerak bersama pembangunan Terminal Cicaheum. Sebanyak 115 pedagang terdampak pembangunan depo BRT dan menerima kompensasi dengan nilai berbeda-beda. (gin)  


Editor : Inilahkoran