Menjemput Layanan Menepis Stigma

KOTA Bogor memperluas layanan HIV hingga ke berbagai fasilitas kesehatan. Harapannya, semakin banyak warga berani memeriksakan diri tanpa rasa takut.

Menjemput Layanan Menepis Stigma
DIAGNOSIS HIV: Kepala Dinkes Kota Bogor Erna Nuraena saat diwawancarai awak media terkait upaya memperkuat penanggulangan HIV. Saat ini, seluruh Puskesmas dan RS di Kota Bogor dapat memberikan layanan tes dan diagnosis HIV.

Oleh: Rizki Mauludi

Bagi orang dengan HIV, perjalanan menjaga kesehatan bukan hanya soal obat. Ada pula perjuangan untuk mendapatkan layanan yang mudah dijangkau, dukungan sosial, serta lingkungan yang tidak menghakimi.

Pemerintah Kota Bogor berupaya memperpendek perjalanan itu dengan memperluas akses layanan HIV. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Erna Nuraena mengatakan, seluruh puskesmas dan rumah sakit di Kota Bogor kini dapat memberikan layanan tes dan diagnosis HIV.

Perluasan layanan tersebut diharapkan membuat masyarakat lebih mudah melakukan deteksi dini. Kepastian diagnosis menjadi langkah awal agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan berkelanjutan.

“Selain layanan tes dan diagnosis, Kota Bogor juga terus memperkuat jejaring layanan PDP yang saat ini telah tersedia di seluruh Puskesmas, 9 RS, dan 7 klinik,” ujar Erna kepada INILAH, Rabu (26/8).

Menurut Erna, akses terhadap perawatan, dukungan, dan pengobatan (PDP) juga terus diperkuat. Semakin dekat layanan dengan tempat tinggal masyarakat, semakin kecil hambatan bagi ODHIV untuk mendapatkan pengobatan dan pendampingan.

Di balik upaya memperluas layanan, masih ada pekerjaan lain yang tak kalah penting: menghapus stigma. Ketakutan, diskriminasi, hingga persoalan psikologis dan sosial masih dapat membuat seseorang enggan memeriksakan diri atau melanjutkan pengobatan.

Karena itu, Dinkes Kota Bogor mendorong edukasi dan promosi kesehatan berjalan beriringan dengan pencegahan dan penemuan kasus. Integrasi layanan HIV juga terus diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, fasilitas kesehatan, komunitas, keluarga, sekolah, dan masyarakat.

“Upaya penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung agar setiap orang dapat mengakses layanan kesehatan secara aman dan setara,” katanya.

Tantangan tersebut semakin kompleks ketika menyentuh kelompok remaja. Selain pengetahuan tentang HIV, mereka membutuhkan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan edukasi seksual yang sesuai dengan usia serta kebutuhan.

Data menunjukkan, HIV masih ditemukan setiap tahun di Kota Bogor. Sepanjang 2025 tercatat 399 kasus HIV baru dan 134 kasus AIDS. Sementara Januari-Juli 2026, ditemukan 255 kasus HIV baru dan 83 kasus AIDS.

Kasus baru paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif 25-49 tahun, yakni 64 persen. Namun, kasus pada remaja juga masih ditemukan, dengan 21 kasus pada kelompok usia 15-19 tahun.

(gin)


Editor : Inilahkoran