Edukasi Iklim Masuk Sekolah, Cimahi Kumpulkan 4 Ton Sampah Lewat Sedekah Sampah
DLH Kota Cimahi mulai memberikan edukasi ke dunia pendidikan dengan menjadikan sekolah garda terdepan soal kesadaran lingkungan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Penanganan perubahan iklim tak lagi hanya menjadi tugas pemerintah semata, melainkan mulai ditanamkan sejak dini di lingkungan pendidikan, seperti edukasi masalah sampah.
Hal itu dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi dengan meluncurkan strategi baru dengan menjadikan sekolah sebagai garda terdepan penyebaran kesadaran lingkungan, mengingat permasalahan iklim yang kian kompleks membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.
Kepala DLH Kota Cimahi, Chanifah Listyarini menjelaskan, kolaborasi lintas sektor menjadi syarat utama agar upaya pelestarian lingkungan berjalan efektif dan berkelanjutan.
"Melalui pendekatan ini, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga menjadi agen perubahan," kata Chanifah, Selasa (9/8/2026).
Chanifah menjelaskan, guru dan siswa dilibatkan secara aktif untuk mengedukasi lingkungan sekitar, mulai dari keluarga hingga tetangga tentang pentingnya pengelolaan sampah yang tepat sejak dari sumbernya.
“sekolah memiliki posisi strategis. Apa yang diajarkan dan dipraktikkan di lingkungan sekolah akan dibawa pulang oleh siswa ke rumah masing-masing," jelasnya.
"Ini menjadi jembatan yang kuat agar kebiasaan baik menjaga lingkungan menyebar luas,” sambungnya.
Chanifah menyebut, salah satu fokus utama program ini adalah memilah sampah bernilai ekonomi tinggi, seperti botol plastik, kardus, kertas bekas, dan sejenisnya.
"Alih-alih langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS), sampah tersebut dihimpun dan disetorkan ke bank sampah agar memiliki nilai jual dan tidak mencemari lingkungan," sebutnya.
"Ini dilakukan untuk mengurangi beban TPA sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi pengelola," sambungnya.
Program yang dinamai 'sedekah sampah' ini, ungkap Chanifah, sebenarnya telah dimulai sejak bulan Ramadan lalu. Hasil awalnya cukup memuaskan, di mana tercatat hampir 4 ton sampah bernilai tinggi berhasil dikumpulkan dari partisipasi sekolah-sekolah selama satu bulan penuh.
“Angka ini menunjukkan antusiasme yang cukup besar. Kami melihat ada harapan besar jika kebiasaan ini terus dilanjutkan,” ucapnya.
Ke depannya, lanjut Chanifah, sebanyak 94 sekolah di seluruh wilayah Cimahi akan diminta menyusun rencana aksi masing-masing. Setiap satuan pendidikan ditargetkan memiliki bank sampah sendiri dan menjalin kerja sama dengan unit bank sampah maupun bank induk yang dikelola DLH.
"Kegiatannya dilakukan secara rutin, para siswa diminta membawa sampah bernilai jual dari rumah satu hingga dua kali dalam seminggu," imbuhnya.
Tak cuma itu, pemerintah daerah memberikan fleksibilitas agar program ini mudah dijalankan, di mana sekolah dapat memilih apakah akan meminta penjemputan sampah dari DLH, atau menjalin kerja sama langsung dengan pengepul setempat.
“Yang terpenting sampah bernilai tinggi ini tidak berakhir menumpuk di TPS. Kami menyediakan berbagai opsi agar sekolah tidak merasa terbebani,” jelasnya.
Untuk menjamin keberlanjutan, tambah Chanifah, DLH bakal melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Namun, pengelolaan harian dan pengembangan program ini akan diserahkan sepenuhnya kepada Dinas Pendidikan.
“Ini menjadi tanggung jawab bersama. Kami berperan sebagai fasilitator, sedangkan Dinas Pendidikan menjadi penggerak utama agar nilai-nilai cinta lingkungan ini benar-benar tertanam di generasi penerus,” tegasnya.
Editor : Ahmad Sayuti


