Embarkasi Haji Jabar Dirombak: Bekasi Justru Diterbangkan dari Kertajati, Ini Alasannya...
ilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kanwil Kemenhaj) Provinsi Jawa Barat melakukan penataan ulang jamaah haji yang akan diberangkatkan melalui dua embarkasi Jakarta–Bekasi (JKS) dan embarkasi Kertajati–Indramayu (KJT).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Kantor Wilayah Kementerian haji dan Umrah (Kanwil Kemenhaj) Provinsi Jawa Barat melakukan penataan ulang jamaah haji yang akan diberangkatkan melalui dua embarkasi Jakarta–Bekasi (JKS) dan embarkasi Kertajati–Indramayu (KJT).
Penataan ini memunculkan kejutan, Kabupaten Bekasi yang secara geografis dekat dengan embarkasi Bekasi justru dipindah ke embarkasi Kertajati.
"Untuk embarkasi kita tetap punya dua, yaitu Bekasi dan Indramayu. Pada tahun ini ada sesuatu yang unik," Plt Kepala Kanwil Kemenhaj Jabar Boy Hari Novian dikutip Senin 17 November 2025.
Menurutnya, embarkasi Kertajati menampung 17.314 jamaah, sehingga beberapa daerah harus dipindahkan untuk menyesuaikan kuota. Di sisi lain, embarkasi Bekasi hanya mendapat kuota 12.329 jamaah, memaksa pihaknya melakukan seleksi ulang daerah yang diberangkatkan dari JKS.
"Ada juga yang tadinya di Indramayu harus pindah. Kenapa? Karena slot jamaah yang sudah ditetapkan di Embarkasi Indramayu itu sebanyak 17.314 jemaah," jelasnya.
Boy menyebutkan, embarkasi Kertajati akan memberangkatkan jamaah dari Kota Bandung, Kota Cirebon, Kabupaten Bekasi dan mayoritas kabupaten/kota lainnya seperti Subang, Purwakarta, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon, Kuningan, Indramayu, Majalengka, Tasikmalaya, Cimahi, Banjar, Bandung Barat, hingga Pangandaran.
“Walaupun Kabupaten Bekasi dekat embarkasi tapi harus kami pindahkan ke Indramayu. Soalnya kalau kami mau narik Cianjur sama Sukabumi pak jamaahnya enggak ada. Saya butuh 3.000 jamaahnya untuk menutupi kuota,” ucapnya.
Total ada 19 kabupaten/kota yang akan diberangkatkan melalui embarkasi Kertajati.
"Jadi Kabupaten Bekasi saya mohon kelegowoan hatinya. Tolong diinformasikan juga kepada jamaahnya bahwa akan ada perpindahan embarkasi ini,” kata Boy.
Kuota embarkasi Bekasi yang lebih kecil membuat prioritas diberikan kepada wilayah terdekat dan wilayah megapolitan. Seperti Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Karawang, Kota Bekasi dan Kota Depok.
"Nah ini juga untuk Bandung Raya kemarin hanya Kabupaten Bandung tapi tahun ini kita masukkan semua Bandung Raya ke Asrama haji Indramayu," ujarnya.
Boy memastikan, Asrama haji Indramayu kini jauh lebih layak dan modern. Mulai dari fasilitas manasik hingga infrastruktur kesehatan telah ditingkatkan.
“Miniatur Kabahnya sudah tidak terlalu jauh berbeda dengan yang ada di Masjidil Haram. Tidak cuman miniatur ya, udaranya pun tidak jauh beda," katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa area sa’i sofa–marwah dibuat sesuai jarak sebenarnya. Selain itu, kini tersedia 4 tower setara hotel bintang 3, akses PDAM yang stabil, kantin, kafe, hingga klinik rawat inap.
“Kliniknya lengkap semua sekarang. Jadi kalau yang sakit sudah ada rumah sakitnya. Kliniknya itu ada klinik untuk rawat inapnya,” tuturnya.
Meski fasilitas meningkat, Boy menegaskan Embarkasi Indramayu tidak menerapkan layanan fast track imigrasi. Pemeriksaan tetap dilakukan di embarkasi dan akan kembali dicek saat tiba di Arab Saudi. Menurutnya, fast track memiliki kelebihan dan kekurangan.
"Sebenarnya sekarang fast track ini ada untung dan ruginya. Tapi kalau tidak fast track ini mungkin bisa bersamaan," ujarnya.
Kerugiannya, kata Boy, adalah risiko keterlambatan deteksi masalah dokumen, seperti yang terjadi tahun sebelumnya.
Sisi lain, Boy meminta Kelompok Bimbingan Ibadah haji dan Umrah (KBIHU) tetap mengikuti jalur koordinasi resmi jika ada jemaah yang mengajukan mutasi daerah.
"Kalau seandainya ingin mutasi ke daerah lain jangan melewati atau membypass tidak koordinasi dengan kabupaten kota awal, tapi malah langsung ke kabupaten tujuan," tutupnya.
Editor : Doni Ramdhani

