Empat Bahasa Mengantar Mimpi Menembus Batas

KEMISKINAN pernah membatasi langkah mereka.Kini, pendidikan memberi mereka keberanian untuk berdiri dan bermimpi lebih tinggi.

Empat Bahasa Mengantar Mimpi Menembus Batas
PERCAYA DIRI: Dedeh Sarinah (16) dan Alimin (17), dua dari empat siswa Sekolah Rakyat yang menyampaikan pidato dalam empat bahasa asing, di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.

Oleh: Dani r nugraha

Tepuk tangan bergema di aula Kompleks Politeknik Pariwisata, Jalan Radio, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Kamis (23/7).

Bukan tertuju pada penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Sosial dan Kementerian Pariwisata, melainkan karena empat remaja yang berdiri percaya diri di atas panggung.

Mereka bergantian berbicara dalam empat bahasa asing. Ada yang berpidato dalam bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, hingga Arab.

Di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, dan ratusan tamu undangan, tak terlihat sedikit pun keraguan dari wajah-wajah muda itu.

Sulit ditebak, beberapa tahun lalu, sebagian dari mereka nyaris kehilangan kesempatan untuk tetap bersekolah. Salah satunya Dedeh Sarinah (16), siswi kelas XI Sekolah Rakyat (SR) Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Dengan suara mantap, dia menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris. Penampilannya seolah menjadi jawaban atas keraguan yang pernah menghinggapi dirinya saat lulus SMP.

Anak pertama dari dua bersaudara asal Kampung Sukasari 2, Desa Pagarwangi, Kecamatan Lembang itu lahir dari keluarga buruh tani. Saat duduk di bangku kelas IX SMP swasta, Dedeh hampir mengubur keinginan melanjutkan pendidikan ke SMA karena keterbatasan biaya.“Saya sudah berpikir kalau tidak dapat beasiswa, saya tidak akan melanjutkan sekolah. Orang tua tidak mampu membiayai,” kata Dedeh kepada INILAH.

Harapan itu datang ketika tim Sekolah Rakyat berkunjung ke sekolahnya. Mereka mencari anak-anak dari keluarga rentan yang berpotensi putus sekolah.

Dedeh melihat kesempatan itu bukan hanya sebagai jalan untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga cara meringankan beban kedua orang tuanya.

Keputusan menerima tawaran itu mengubah banyak hal. Di asrama Sekolah Rakyat, dia tidak hanya memperoleh pendidikan tanpa biaya.

Dedeh belajar hidup disiplin, membangun kepercayaan diri, dan mengenal berbagai keterampilan baru, termasuk bahasa asing yang sebelumnya tak pernah dia bayangkan bisa dikuasai.

“Saya senang sekali bisa sekolah di SR. Kami belajar dengan fasilitas yang bagus, guru-guru yang lengkap, termasuk belajar bahasa asing. Apa yang kami tampilkan hari ini hasil belajar selama dua tahun,” katanya.

Kini, mimpinya pun tumbuh lebih tinggi. Dedeh ingin melanjutkan pendidikan ke Universitas Gadjah Mada dengan mengambil jurusan Hukum.

Perjalanan serupa dialami Alimin (17). Remaja asal Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat itu merupakan anak keempat dari lima bersaudara.

Ayah dan ibunya sama-sama bekerja sebagai buruh tani, sehingga biaya pendidikan kerap menjadi persoalan yang sulit diatasi.

“Bahkan untuk sekolah di SMA biasa saja terasa berat. Orang tua hanya bekerja sebagai buruh tani di sawah milik orang lain,” ujarnya.

Sebelum bergabung dengan Sekolah Rakyat, Alimin menempuh pendidikan di sebuah madrasah tsanawiyah di Saguling. Baginya, kuliah hanya terdengar sebagai impian yang terlalu jauh untuk diraih.

Namun, kesempatan masuk SR Lembang mengubah cara pandangnya. Di sana, dia tinggal di asrama, mendapatkan pendidikan, pembinaan karakter, hingga kesempatan mempelajari bahasa Jepang. Bahasa itulah yang kemudian dia tampilkan dengan penuh percaya diri di hadapan para pejabat negara.

“Alhamdulillah saya diterima di SR Lembang. Saya mendapatkan pendidikan yang baik dengan fasilitas yang luar biasa. Sekarang saya punya cita-cita kuliah di Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional,” katanya.

Bagi Alimin, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar. Sekolah itu memberinya keberanian untuk membayangkan masa depan yang sebelumnya terasa mustahil.

Kisah Dedeh dan Alimin menjadi potret kecil dari tujuan besar program Sekolah Rakyat. Di hadapan para tamu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan perubahan yang dialami para siswa menjadi alasan pemerintah terus memperluas program tersebut.

Saat ini sekitar 15 ribu siswa menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat yang tersebar di 166 kabupaten dan kota di Indonesia, mulai jenjang SD hingga SMA. Pada tahun ajaran 2026/2027, jumlah itu ditargetkan bertambah sekitar 15 ribu siswa lagi.

“Tahun ini kami akan membangun 100 Sekolah Rakyat lagi. Targetnya seluruh kabupaten dan kota memiliki Sekolah Rakyat agar anak-anak yang putus sekolah maupun rentan putus sekolah mendapatkan pendidikan yang berkualitas,” ujar Saifullah.

Salah satu Sekolah Rakyat baru akan dibangun di atas lahan milik Kementerian Pariwisata di Jalan Radio, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Pembangunan itu ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Sosial dan Kementerian Pariwisata.

Namun, siang itu, perhatian tak sepenuhnya tertuju pada dokumen yang ditandatangani atau target pembangunan yang diumumkan pemerintah.

Empat bahasa yang bergema dari atas panggung justru menjadi pengingat bahwa kesempatan dapat mengubah jalan hidup seseorang. Bagi Dedeh, Alimin, dan ribuan siswa Sekolah Rakyat lainnya, pendidikan bukan sekadar ruang belajar, tapi pintu untuk kembali berani bermimpi.

(gin)


Editor : Inilahkoran