Empat Siswa Pilih Mengundurkan Diri dari Program Sekolah Rakyat di Bandung
Empat siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 11 Kota Bandung memutuskan mengundurkan diri dari program Sekolah Rakyat setelah dua pekan mengikuti kegiatan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Empat siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 11 Kota Bandung memutuskan mengundurkan diri dari program Sekolah Rakyat setelah dua pekan mengikuti kegiatan.
Keempat siswa tersebut diketahui mengalami kesulitan beradaptasi dengan sistem pendidikan berasrama (boarding).
Kepala SRMA 11 Kota Bandung, Tintin Sri Suprihatin, mengungkapkan bahwa total ada 100 siswa yang mengikuti program pendidikan gratis untuk pengentasan kemiskinan tersebut. Namun, empat di antaranya memilih keluar karena tidak sanggup mengikuti pola hidup di asrama.
“Kalau anak-anak sebenarnya betah, tapi empat orang ini tidak sanggup boarding. Satu laki-laki dan tiga perempuan,” kata Tintin saat ditemui di Bandung, Senin (28/7).
Ia menduga keempat siswa tersebut mengalami homesick, yaitu rasa cemas atau rindu yang mendalam terhadap keluarga, sehingga menyulitkan mereka untuk menjalani masa adaptasi.
"Mereka masih ingin tidur bersama orang tuanya. Jadi mereka belum terbiasa tinggal jauh dari rumah," jelasnya.
Keputusan untuk keluar diambil saat siswa masih dalam tahap persiapan yang dijadwalkan berlangsung selama 10 minggu, setelah menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama dua pekan.
“Persiapan ini penting karena mereka baru pertama kali tinggal di lingkungan boarding, dengan aturan yang cukup ketat dan kurikulum yang juga menyesuaikan standar Kemendikdasmen,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi perasaan rindu terhadap keluarga, pihak sekolah rutin mengadakan sesi curhat malam bersama siswa. Namun, empat siswa tersebut akhirnya memilih untuk kembali menempuh pendidikan di sekolah biasa.
“Mereka sudah kembali bersekolah. Ada yang masuk sekolah negeri, ada juga yang ke swasta. Semua sudah kembali ke keluarganya,” imbuh Tintin.
Ia menegaskan, pihak sekolah tidak memaksa siswa untuk tetap bertahan di program Sekolah Rakyat. Program ini bersifat sukarela dan melibatkan persetujuan penuh dari orang tua.
Terkait kunjungan keluarga, sekolah juga membuka kesempatan bagi orang tua untuk menemui anak mereka, selama tidak mengganggu jam belajar.
“Sesuai pesan presiden, orang tua tidak boleh dihalangi untuk bertemu anaknya. Jadi kalau ada orang tua datang, kami fasilitasi,” katanya.
Saat ini, keempat siswa yang mundur telah digantikan oleh peserta baru. Proses rekrutmen tetap merujuk pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), dengan sasaran utama keluarga dari desil satu dan dua. Jumlah total siswa tetap 100 orang.***
Editor : JakaPermana

