Empat Srikandi Mengisi Kursi Kosong
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh:Rizki Mauludi
INILAH, Bogor - Empat perempuan hari itu mendapat amanah baru. Di Paseban Sri Baduga, Balai Kota Bogor, Kamis (20/8) sore, mereka dilantik untuk mengisi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) pratama yang sebelumnya kosong.
Pelantikan itu menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Bogor menjaga roda pemerintahan tetap berjalan. Sejumlah posisi kepala dinas yang kosong harus segera diisi, sementara beberapa jabatan lain mulai bersiap ditinggalkan pejabatnya yang memasuki masa pensiun.
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan, pengisian jabatan merupakan bagian dari kebutuhan organisasi yang harus dilakukan ketika terjadi kekosongan.
“Ini bagian dari kebutuhan riil lembaga, karena ada beberapa kekosongan yang harus diisi,” kata Dedie kepada wartawan.
Empat pejabat perempuan tersebut mengisi JPT Pratama. Pada kesempatan yang sama, sebanyak 13 pejabat fungsional juga dilantik.
Namun, pelantikan empat perempuan itu bukanlah hasil dari kebijakan yang sengaja diarahkan untuk mengutamakan perempuan. Nama-nama tersebut muncul dari proses seleksi dan manajemen talenta yang telah berjalan.
“Begitu melihat hasilnya, kebetulan yang nilainya cukup bagus itu perempuan,” ujar Dedie.
Bagi Dedie, jenis kelamin bukan lagi batas dalam menentukan kesempatan menduduki jabatan pemerintahan. Prestasi dan kemampuan menjadi ukuran yang lebih penting.
“Enggak ada dikotomi perempuan ataupun laki-laki. Kalau perempuan berprestasi, tentu kami berikan kesempatan,” katanya.
Para pejabat yang dilantik bukan wajah baru dalam pemerintahan Kota Bogor. Mereka telah berkiprah dan membangun rekam jejak di lingkungan Pemkot Bogor sebelum mendapat amanah baru.
Pelantikan pun tidak berhenti pada seremonial. Di balik pengisian kursi jabatan, ada tuntutan agar pejabat yang mendapat kepercayaan mampu menjaga kepercayaan tersebut.
Dedie mengatakan dirinya tidak banyak melakukan intervensi dalam proses pemilihan. Hasil rekomendasi teknis dan nilai dari proses seleksi menjadi dasar dalam menentukan pejabat yang dianggap layak.
“Saya tidak banyak intervensi. Saya melihat hasil rekomtek dan memilih yang nilainya cukup untuk memenuhi jabatan,” ujarnya.
(gin)
Editor : Inilahkoran

