Final Piala Presiden 2026: Lapak-lapak UMKM Terus Berdetak

PIALA Presiden 2026 kembali membuktikansepak bola bukan sekadar persaingan di lapangan. Lapak-lapak UMKM terus berdetak.

Final Piala Presiden 2026: Lapak-lapak UMKM Terus Berdetak

Oleh: Muhammad Ginanjar)

Di balik sengitnya pertandingan hingga partai final di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (6/8), turnamen pramusim bergengsi ini juga mampu menjadi ruang pemberdayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Meski partai puncak berlangsung tanpa kehadiran penonton, suasana di sekitar stadion tetap terasa semarak. Aktivitas pelaku UMKM justru menjadi denyut kehidupan tersendiri di area pertandingan.

Puluhan stan yang berjejer rapi menyajikan beragam pilihan kuliner, mulai dari makanan berat, jajanan tradisional, camilan khas daerah, aneka minuman segar, hingga kopi.

Kehadiran mereka melayani kebutuhan panitia, petugas keamanan, serta awak media yang bertugas selama laga final berlangsung.

Yang menarik, seluruh hidangan yang disediakan para pelaku UMKM pada partai final ini dapat dinikmati secara cuma-cuma alias gratis.

Kesempatan tersebut pun disambut antusias oleh para petugas dan tamu yang hadir, sehingga area stadion tetap dipenuhi aktivitas meski tanpa riuh sorak penonton dari tribun.

Ketua Panitia Pelaksana Piala Presiden 2026, Tsamara Amany, menegaskan bahwa sejak awal penyelenggaraan, turnamen ini memang dirancang agar tidak hanya menghadirkan hiburan lewat sepak bola, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Ia mengungkapkan bahwa pada fase grup di Surabaya terdapat sekitar 80 UMKM yang menjadi tenant selama pertandingan berlangsung. Sementara di Bandung, jumlahnya mencapai sekitar 50 hingga 60 pelaku usaha.

Sedangkan pada babak final di Stadion Kapten I Wayan Dipta, meski berlangsung tanpa penonton, panitia tetap menghadirkan 25 UMKM lokal.

Menurut Tsamara, seluruh kebutuhan konsumsi kepanitiaan hingga personel keamanan dipenuhi melalui para pelaku UMKM tersebut. Langkah ini dilakukan agar perputaran ekonomi tetap berjalan dan manfaat penyelenggaraan turnamen benar-benar dirasakan masyarakat di daerah tuan rumah.

Hasilnya pun cukup menggembirakan. Total transaksi atau perputaran ekonomi dari sektor UMKM selama penyelenggaraan Piala Presiden 2026 mencapai sekitar Rp1,5 miliar. Angka tersebut meningkat sekitar 27 persen dibandingkan penyelenggaraan Piala Presiden edisi sebelumnya.

“Bagi kami, keberhasilan turnamen tidak hanya diukur dari kualitas pertandingan, tetapi juga dari dampak ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat. Harapannya hingga partai final, Piala Presiden tetap memberikan manfaat dari sisi kompetisi, keamanan, ekonomi, hingga kebersihan,” ujar Tsamara.

Komitmen terhadap pemberdayaan UMKM juga mendapat penegasan dari Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait. Ia menyebut bahwa ada sejumlah nilai utama yang selalu dipegang dalam penyelenggaraan turnamen ini.

“Kita punya prinsip nomor satu value-nya adalah kepercayaan. Nomor dua, tidak menggunakan uang negara. Yang ketiga, kita punya value yaitu UMKM diberdayakan. Kemudian Kelola Sampah,” kata Maruarar.

Tak hanya memperhatikan ekonomi masyarakat, Piala Presiden 2026 juga meningkatkan nominal hadiah bagi para peserta. Total saat ini untuk juara pertama yang semula Rp6 miliar menjadi Rp8 miliar.

Lalu untuk juara kedua yang semula Rp3 miliar menjadi Rp3,5 miliar, juara ketiga yang semula Rp2 miliar menjadi Rp2,5 miliar dan juara keempat yang semula Rp1 miliar menjadi Rp1,5 miliar.

“Jadi tidak boleh ada angka turun ya. Harus kebaikan itu makin tinggi, supaya makin semangat pemainnya, klubnya ya untuk bersaing sehat,” ucapnya.


Editor : Inilahkoran