Frontotemporal Dementia Bisa Menyerang Usia Muda, Kenali Gejala Awalnya Sejak Dini
Frontotemporal dementia (FTD) dapat menyerang usia produktif. Kenali gejala awal, penyebab, dan teknologi terbaru yang membantu deteksi dini penyakit ini.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Demensia tidak hanya dialami oleh lanjut usia. Salah satu jenisnya, frontotemporal dementia (FTD), justru lebih sering menyerang orang berusia produktif. Sayangnya, gejala awal penyakit ini kerap disalahartikan sebagai stres, kelelahan, atau gangguan psikologis sehingga banyak pasien baru mendapatkan diagnosis ketika kondisinya sudah berkembang.
Mengutip laporan The Guardian, frontotemporal dementia merupakan gangguan saraf yang menyebabkan penyusutan pada bagian depan dan samping otak. Kedua area tersebut memiliki peran penting dalam mengatur perilaku, kemampuan berbahasa, pengambilan keputusan, serta pengendalian emosi.
Berbeda dengan penyakit Alzheimer yang umumnya diawali penurunan daya ingat, FTD lebih sering ditandai dengan perubahan perilaku. Penderitanya dapat menjadi lebih impulsif, sulit berkonsentrasi, kesulitan menyusun rencana, mudah terdistraksi, hingga mengalami gangguan berbicara atau memahami percakapan.
Profesor Adam Boxer dari University of California, San Francisco, menjelaskan bahwa banyak pasien baru terdiagnosis pada tahap lanjut karena usia mereka masih relatif muda sehingga gejalanya sering dianggap sebagai gangguan kejiwaan.
"Sebagian besar pasien frontotemporal dementia didiagnosis relatif terlambat karena mereka masih berusia muda dan gejalanya kerap disalahartikan sebagai gangguan psikiatri," ujar Adam Boxer.
Pentingnya Deteksi Dini frontotemporal dementia
Mengenali tanda-tanda awal FTD menjadi langkah penting agar pasien dapat memperoleh penanganan sedini mungkin. Meskipun hingga kini belum tersedia terapi yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut, diagnosis dini mampu membantu memperlambat perkembangan gejala dan menjaga kualitas hidup penderita lebih lama.
Harapan baru juga datang dari kemajuan teknologi kesehatan. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Network Open mengembangkan aplikasi ponsel pintar yang mampu mendeteksi tanda awal frontotemporal dementia melalui serangkaian tes kognitif.
Penelitian tersebut melibatkan 360 peserta yang memiliki risiko genetik tinggi mengalami FTD. Aplikasi dirancang untuk menilai kemampuan berpikir, pola bicara, bahasa, keseimbangan tubuh, hingga cara berjalan.
Hasil penelitian menunjukkan kemampuan aplikasi dalam mengenali gejala awal FTD setidaknya setara dengan pemeriksaan neuropsikologi yang selama ini dilakukan di fasilitas kesehatan.
Meski demikian, teknologi tersebut masih digunakan untuk kepentingan penelitian dan belum tersedia bagi masyarakat umum. Para peneliti berharap aplikasi tersebut dapat mempercepat proses identifikasi pasien sekaligus mendukung pengembangan terapi baru melalui uji klinis.
Jangan Langsung Menganggap Demensia
Para ahli mengingatkan bahwa sulit berkonsentrasi, mudah lupa, atau perubahan suasana hati tidak selalu berarti seseorang mengalami demensia. Keluhan tersebut juga dapat dipicu oleh stres berkepanjangan, kurang tidur, depresi, efek samping obat, maupun kondisi kesehatan lainnya.
Namun, apabila perubahan perilaku, kemampuan berbahasa, atau fungsi berpikir berlangsung secara terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, masyarakat disarankan segera berkonsultasi dengan dokter atau ahli saraf. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu memastikan penyebab keluhan sekaligus memberikan penanganan yang tepat sebelum penyakit berkembang lebih jauh.***
Editor : JakaPermana


