Gempa M7,7 Guncang NTT, 54 Orang Meninggal dan Bantuan Darurat Dikerahkan
Gempa M7,7 mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026. Sebanyak 54 orang meninggal dunia, sementara BNPB mengerahkan bantuan dan operasi pencarian.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Pemerintah Indonesia memperkuat penanganan darurat pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026).
Hingga Senin (17/8/2026), sebanyak 54 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut. Sementara itu, proses pencarian korban dan pendataan dampak gempa masih dilakukan di sejumlah wilayah di Pulau Flores.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan pemerintah telah mengerahkan langkah penanganan darurat secara maksimal untuk membantu masyarakat terdampak gempa.
Saat menghadiri upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Manggarai, Senin (17/8/2026), Pratikno mengatakan sejumlah pejabat pemerintah telah berada di NTT sejak hari pertama gempa. Kehadiran tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi di lapangan sekaligus mempercepat penanganan dan pemulihan.
Pemerintah Salurkan 50 Ribu Paket Bantuan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan bantuan melalui pusat logistik di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Bantuan tersebut kemudian dikirim ke sejumlah wilayah terdampak melalui Labuan Bajo dan Maumere.
Sebanyak 50 ribu paket bantuan yang disediakan Presiden Prabowo Subianto disalurkan kepada masyarakat terdampak di sejumlah daerah.
Bantuan tersebut didistribusikan ke wilayah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ende, dan Nagekeo.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai jalur distribusi untuk memastikan bantuan dapat menjangkau wilayah yang sulit diakses. Jalur darat, laut, dan udara digunakan dalam proses pengiriman bantuan.
Untuk mendukung operasi tersebut, enam pesawat ditempatkan di Labuan Bajo dan lima pesawat lainnya di Maumere.
Pendataan Kerusakan Rumah Jadi Prioritas
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pemerintah daerah diminta segera melakukan pendataan terhadap tingkat kerusakan rumah warga yang terdampak gempa.
Pendataan dilakukan untuk mengetahui kondisi rumah, mulai dari kerusakan ringan hingga kerusakan berat. Informasi tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menentukan kebutuhan dan langkah penanganan bagi masyarakat.
Menurut Suharyanto, pendataan kebutuhan masyarakat menjadi prioritas sebelum pemerintah melakukan penilaian lebih lanjut terhadap kerusakan fasilitas milik pemerintah.
Selain pendataan kerusakan, operasi pencarian korban dan asesmen dampak gempa masih terus dilakukan di sejumlah wilayah terdampak di Flores.
Pemerintah memastikan proses penanganan darurat terus diperkuat untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan bantuan. Distribusi logistik, pencarian korban, pendataan kerusakan, hingga pemulihan kondisi masyarakat menjadi bagian dari upaya penanganan pascagempa NTT.***
Editor : JakaPermana

