'Getek' 23 Tahun Kondisi Cimahi Tak ada Perubahan Signifikan, Adhitia Yudhistira Memantapkan Diri Maju Pilwalkot Cimahi 2024

Adhitia Yudhistira, figur muda yang berusia 33 tahun ini sudah memantapkan diri untuk maju pada Pilwalkot Cimahi 2024

'Getek' 23 Tahun Kondisi Cimahi Tak ada Perubahan Signifikan, Adhitia Yudhistira Memantapkan Diri Maju  Pilwalkot Cimahi 2024

INILAHKORAN, Cimahi - Bermunculannya figur-figur muda pada kontestasi Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Cimahi 2024 digadang-gadang bakal membawa perubahan baru pada atmosfer perebutan kursi orang nomor satu di Cimahi dengan tiga kecamatan ini.

Kehadiran sosok-sosok muda ini tak terlepas dari figur muda yang berkontestasi di kancah politik nasional pada Pilpres 2024 lalu.

Sebut saja Adhitia Yudhistira, figur muda yang berusia 33 tahun ini sudah memantapkan diri untuk maju pada Pilwalkot Cimahi 2024. Bermodalkan segudang pengalaman yang didapatnya saat menjadi asisten pribadi mantan Wali Kota Bandung, Dada Rosada sejak 2010-2013 membulatkan tekadnya untuk membawa perubahan bagi Kota Cimahi.

"Saya getek (gatel) melihat kondisi Cimahi yang gini-gini aja. Padahal, Cimahi sudah 23 tahun berdiri dan hanya memiliki 3 kecamatan, serta 15 kelurahan. Jadi harus ada perubahan yang lebih signifikan lagi," kata Adhitia kepada wartawan.

Adhitia mengaku, dirinya kini tengah melakukan penjajagan dan komunikasi dengan sejumlah partai. Salah satunya yang intens dari Partai Golkar.

"Karena saya ingin maju dari partai politik bukan dari independen," ucapnya.

Tak hanya itu, Adhitia juga menilai, konstalasi politik jelang Pilwalkot di Cimahi ini masih terlihat adem ayem. Padahal, waktu pelaksanaan Pilkada Serentak 2024 sudah semakin sempit, namun terkesan masih belum terlihat figur-figur yang bakal maju pada Pilwalkot Cimahi.

"Oleh karenanya, saya sebagai anak mudah berani mengusung tagline  #cimahimakinhepi sebagai trigger agar figur-figur lain ikut muncul," ujarnya.

Selain itu, kata Adhitia, agar publik di Cimahi bisa mengenal calon-calon yang akan berkontestasi sebelum mereka menjatuhkan pilihan kepada siapa.

"Pilwalkot sebentar lagi, tapi di Cimahi masih adem-adem saja. Saya sebagai putra daerah, sosok anak muda, justru ingin meramaikan, bersaing secara terbuka dan profesional," tegasnya. 

Saat ini, ungkap Adhitia, Kota Cimahi mengalami kekurangan figur muda sekaligus kekurangan anak muda yang expert dalam upaya pembangunan di Kota Cimahi. 

"Salah satunya, kurangnya sentuhan dari pemerintah yang memengaruhi indeks kebahagiaan dan kebutuhan masyarakat yang masih rendah," imbuhnya.

Tak hanya itu, Adhitia juga menyoroti skor indeks pendidikan di Cimahi yang cukup baik. Namun, bukan tidak ada kelemahan sebab, jumlah sekolah tidak memadai apalagi, saat ini pemerintah memberlakukan sistem zonasi. 

"Termasuk angka pengangguran yang mencapai 35 persen itu jadi pekerjaan rumah bagi calon pemimpin Cimahi ke depan," terangnya.

Kendati  belum pernah terjun ke dunia politik sebelumnya, namun Adithia mengaku memiliki segudang pengalaman di bidang organisasi, wirausaha, hingga sektor pemerintahan. 

Termasuk, beberapa kali menyelematkan sejumlah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang terancam kolaps milik Pemda di Bandung Raya dan wilayah Indonesia Timur. 

"Persoalan lain dihadapi Cimahi yakni keterbatasan ruang terbuka, pengelolaan sampah, banjir, kemacetan, hingga masih tingginya angka pengangguran," sebutnya.

Kendati demikian, pihaknya telah mempunyai konsep untuk menyelesaikan persoalan tersebut yang akan dijalankan saat menjadi orang nomor satu di Cimahi. 

"Termasuk saya juga berkomitmen untuk tidak serakah akan godaan kekuasaan yang luar biasa. Tiga kali kepala daerah di Cimahi terjerat kasus hukum jadi pelajaran buat saya, untuk menciptakan Cimahi yang bersih dan terbebas dari pola-pola korupsi," tegasnya. 

Pada kesempatan yang sama, Peneliti Indonesia Strategic Institue (Instrat) Bidang Media, Media Sosial, dan Komunikasi Informasi, Muhammad Fajar Shiddieq, mengatakan, berdasarkan hasil survei pihaknya sosok pemimpin kepala daerah di Cimahi perlu perpaduan figur senior dan junior. 

"Survei terbaru kami baru akan lakukan bulan depan, tapi hasil survei terakhir figur di Cimahi akan lebih mudah diterima dari latar belakang agama, militer, dan profesional," ujarnya.

"Tapi dengan kejadian di Pilpres (Gibran) itu akan mempengaruhi pilihan masyarakat yang mulai cenderung menyukai pemimpin muda," tandasnya.*** (agus satia negara)


Editor : Ahmad Sayuti