Guru Besar UIN Bandung: Pendidikan Agama Moderat sebagai Pilar Kebangkitan Nasional Kedua, Upaya Menanamkan Semangat Kebangsaan
Pendidikan agama moderat menjadi pilar penting dalam membangkitkan semangat kebangsaan di era digital yang penuh tantangan ideologis dan sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Pendidikan Agama Moderat menjadi pilar penting dalam membangkitkan semangat kebangsaan di era digital yang penuh tantangan ideologis dan sosial.
Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Bambang Qomaruzzaman, dalam sebuah pernyataan yang diterima di Jakarta.
Dalam pandangannya, pendidikan agama yang bersifat moderat bukan sekadar transformasi dalam aspek teologis, melainkan transformasi cara beragama agar sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan dan kehidupan sosial modern.
Ia menekankan bahwa pendekatan moderat dalam pendidikan agama sangat penting untuk membangun nasionalisme generasi muda dan mencegah mereka terjerumus pada paham-paham radikal serta intoleran.
“Pendidikan Agama Moderat bukan mengubah agama itu sendiri, tetapi mengubah cara beragama agar dapat diterima oleh semua kalangan di ruang publik. Beragama secara moderat berarti menerima keberagaman sebagai modal untuk hidup bersama, bukan sebagai penghalang,” jelas Prof. Bambang.
Menghidupkan Kembali Relevansi Pendidikan Agama
Sayangnya, menurut Prof. Bambang yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Jawa Barat, pendidikan agama dewasa ini cenderung kehilangan konteks dalam kehidupan sehari-hari.
Kurikulum yang diajarkan hanya berfokus pada aspek tekstual atau doktrinal semata, tanpa mengaitkannya dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia.
“Pendidikan agama yang hanya mengajarkan nilai-nilai spiritual tanpa mengaitkannya dengan masalah nyata di masyarakat, membuat ajaran tersebut kehilangan relevansi dan terasa kosong,” tegasnya.
Ia mengajak para pendidik dan tokoh agama untuk terus berinovasi dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Materi pendidikan agama harus dikemas dengan cara yang mampu menyentuh kesadaran generasi muda, tidak hanya dalam konteks religiusitas pribadi, tetapi juga dalam konteks kebangsaan dan kehidupan bernegara.
Menghadapi Tantangan Ideologi Transnasional
Prof. Bambang mengingatkan bahwa salah satu ancaman besar yang kini dihadapi bangsa Indonesia adalah berkembangnya ideologi transnasional yang mengikis rasa nasionalisme dan memperkuat eksklusivisme beragama.
Dalam hal ini, moderasi beragama berfungsi sebagai tameng ideologis yang kuat untuk membendung arus paham-paham yang membahayakan keutuhan bangsa.
“Beragama itu bukan hanya aksi untuk mati, melainkan juga untuk hidup lebih baik di konteks kehidupan sosial masyarakatnya,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa generasi muda yang dibekali dengan semangat moderat dalam beragama akan lebih siap untuk menjaga persatuan dan membangun kerja sama lintas agama demi Indonesia yang lebih kuat dan bersatu.
Menuju Kebangkitan Nasional yang Kedua
Menariknya, Prof. Bambang menyebut bahwa Indonesia kini membutuhkan "Kebangkitan Nasional yang kedua".
Jika Kebangkitan Nasional pertama dimulai pada awal abad ke-20 sebagai respons terhadap kolonialisme, maka Kebangkitan Nasional kedua haruslah menjadi gerakan bersama untuk melawan radikalisme, intoleransi, dan ancaman terhadap integritas bangsa.
“Pada titik inilah pendidikan agama secara moderat diperlukan untuk mendorong pentingnya hidup bersama dengan penganut agama apapun, demi menciptakan Kebangkitan Nasional yang kedua,” ujarnya.
Ia menyimpulkan bahwa pendidikan agama secara moderat adalah salah satu jalan menuju Kebangkitan Nasional tersebut.
Dengan menanamkan kesadaran hidup bersama dan bekerja sama lintas agama, bangsa Indonesia dapat menciptakan solidaritas yang kokoh di tengah tantangan zaman.***
Editor : Yosep Saepul Ramadan

