Haul Agung Sunan Gunung Jati Digelar 19 September
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Cirebon- Haul Agung Kanjeng Sinuhun Sunan Gunung Jati, Syekh Syarif Hidayatullah, dijadwalkan berlangsung pada 19 September 2026 di Masjid Syarif Abdurachman, kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati, Cirebon.
Penyelenggaraan tahun ini dirancang lebih luas dari sekadar agenda keagamaan tahunan. Haul akan menjadi titik awal untuk menyatukan berbagai unsur masyarakat sekaligus mengaktualisasikan kembali warisan Sunan Gunung Jati dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi hingga keagamaan.
Ketua Tim Perumus Penyelenggaraan Haul Agung Sunan Gunung Jati, KH Abdul Hayyi mengatakan, konsep tersebut disusun melalui tiga tahapan program, yakni jangka pendek, menengah dan panjang.
“Jangka pendek ingin memantik dan memotivasi bahwa haul ini adalah haul kita semua, oleh kita semua,” ujar KH Abdul Hayyi, Kamis (17/9).
Menurutnya, sedikitnya sembilan elemen akan dilibatkan dalam penyelenggaraan dan pengembangan Haul Agung.
Elemen tersebut mencakup kalangan kiai dan pesantren, keraton beserta jejaringnya, ilmuwan dan cendekiawan, budayawan, seniman serta sejarawan, hingga keturunan Sunan Gunung Jati yang tersebar di dalam maupun luar negeri.
Selain itu, keterlibatan juga diarahkan kepada unsur pemerintah dan pengambil kebijakan dari eksekutif, legislatif serta yudikatif, tokoh lintas agama dan etnik, kalangan pengusaha hingga tokoh dan berbagai lapisan masyarakat.
“Pemantiknya adalah Haul Agung yang akan kita laksanakan dalam jangka pendek ini,” katanya.
Setelah pelaksanaan haul, tim perumus menyiapkan agenda jangka menengah dengan menghidupkan kembali nilai dan wasiat Sunan Gunung Jati dalam kehidupan masyarakat.
Salah satu yang ditekankan adalah kepedulian terhadap fakir miskin dan anak yatim. Nilai keagamaan juga didorong tidak berhenti pada kegiatan ritual, tetapi diterjemahkan dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya maupun kehidupan berbangsa.
“Spirit beragama tidak boleh melepaskan kehidupan ideologi, politik, sosial dan budaya. Semuanya harus dikombinasikan,” akunya.
Menurut Abdul Hayyi, sejarah Sunan Gunung Jati menunjukkan peran yang tidak hanya berkaitan dengan penyebaran agama. Syekh Syarif Hidayatullah juga memiliki peran dalam membangun masyarakat dan pemerintahan pada zamannya.
Atas dasar itu, Haul Agung diharapkan menjadi ruang bersama untuk membawa nilai warisan tersebut ke dalam kehidupan masyarakat saat ini.
“Milik kita semua, oleh kita semua, dari kita semua. Dan hanya ada satu Haul Agung Syekh Syarif Hidayatullah,” ujarnya.
Tidak berhenti pada penyelenggaraan tahun ini, tim perumus juga menyiapkan agenda jangka panjang berupa dorongan pembentukan regulasi mengenai Haul Agung Sunan Gunung Jati.
Regulasi tersebut nantinya dapat berbentuk peraturan daerah (Perda), peraturan bupati (Perbup) maupun peraturan wali kota (Perwali).
“Regulasi itu dapat berupa Perda di tingkat kabupaten maupun kota, serta Perbup dan Perwali,” katanya.
Menurutnya, bentuk kebijakan masing-masing pemerintah daerah dapat berbeda menyesuaikan karakteristik wilayah. Namun, substansi dan semangat penyelenggaraan Haul Agung diharapkan tetap berada dalam satu kesepahaman.
Salah satu poin yang ingin ditegaskan adalah konsep satu Haul Agung Sunan Gunung Jati. Rumusan tersebut, kata dia, harus disusun dengan berlandaskan fakta sejarah, manuskrip serta referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Pesantren, lembaga keraton maupun lembaga lainnya silakan menggelar haul. Tetapi Haul Agung hanya satu, sesuai regulasi,” ujarnya.
(maman suharman)
Editor : Inilahkoran

