Melawan Getir demi Seteguk Air
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Karawang- Sejak Juni 2026, rutinitas pagi warga 24 desa yang tersebar di enam kecamatan, Kabupaten Karawang berubah drastis. Tidak ada lagi air bersih yang mengalir lancar dari pipa atau sumur rumah mereka.
Sebagai gantinya, para warga terpaksa berjalan berkilo-kilo meter, menembus terik, hanya untuk mencari mata air tersisa yang belum sepenuhnya mati.
Bagi mereka, air kini bukan lagi sekadar fasilitas gratis dari alam, melainkan barang mewah yang harus ditebus dengan peluh atau rupiah.
Krisis air bersih memukul sendi-sendi kehidupan paling mendasar. Untuk memasak sekerat nasi, membasuh diri, atau sekadar melepas dahaga, warga kini dihadapkan pada pilihan sulit: berjalan jauh ke sumber mata air yang tersisa, membeli air bersih dengan uang yang pas-pasan, atau menunggu kebaikan hati sesama.
"Kebanyakan warga akhirnya terpaksa membeli air bersih untuk kebutuhan harian mereka seperti memasak dan mandi," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, Usep Supriatna, pada Kamis (17/9).
"Kalau tidak membeli, harapan mereka satu-satunya adalah kiriman bantuan air bersih yang datang ke desa." Kondisi paling memilukan terjadi di Kecamatan Pangkalan dan Kecamatan Tegalwaru. Di dua wilayah ini, alam seolah sedang menguji batas kesabaran manusia.
Hampir seluruh desa di sana kering kerontang. Sumber-sumber mata air yang biasanya menghidupi warga kini berubah menjadi ceruk tanah yang retak tanpa menyisakan setitik air pun.
Hingga saat ini, BPBD Karawang mencatat telah menggelontorkan 1.594.000 liter air bersih ke wilayah-wilayah terdampak.
Angka yang besar, namun medan dan luasan wilayah yang mengalami kekeringan membuat bantuan harus disalurkan dengan sangat hati-hati dan bergilir.
"Karena jumlah desa yang dilanda kekeringan terus bertambah, dalam sekali jalan kami hanya mampu mengirim air bersih ke tiga titik secara bergilir," aku Usep.
Keterbatasan armada membuat BPBD tidak bisa berjalan sendiri. Di tengah situasi kritis ini, solidaritas kemanusiaan mulai bermunculan. Pihak swasta, dunia usaha, hingga para relawan kebencanaan bahu-membahu ikut mengulurkan tangan.
Meski prediksi awal memperkirakan kemarau akan mereda pada Agustus lalu, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bumi Karawang masih meranggas hingga bulan September ini.
Di tengah ketidakpastian cuaca, warga 24 desa tersebut masih terus menatap ke langit dan ujung jalan, menanti datangnya hujan atau setidaknya, deru truk tangki air yang membawa napas kehidupan bagi mereka. (nila kusuma/bsf)
Editor : Inilahkoran

