Heboh MBG di Lebak, Wadah Makan Diduga Dicuci dengan Air Limbah

Program MBG kembali menuai kritik setelah beredar rekaman video yang memperlihatkan proses pencucian wadah makanan atau food tray di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cibadak, Kabupaten Lebak

Heboh MBG di Lebak, Wadah Makan Diduga Dicuci dengan Air Limbah
Heboh MBG di Lebak, Wadah Makan Dicuci dengan Air Limbah

INILAHKORAN - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai kritik setelah beredar rekaman video yang memperlihatkan proses pencucian wadah makanan atau food tray di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cibadak, Kabupaten Lebak. 

Dalam rekaman tersebut terlihat lantai dapur tergenang air yang diduga bercampur limbah makanan dari saluran di samping dapur.

Dugaan kelalaian itu berdampak pada kualitas makanan yang dikirim ke sekolah, termasuk SMPN 3 Cibadak dan SDN 1 Asem. Di SMPN 3, ratusan porsi makanan akhirnya tidak dikonsumsi karena tercium bau asam yang tidak wajar. Guru SMPN 3 Cibadak, Nurohmah, menyebut pihak sekolah langsung mengembalikan makanan karena khawatir siswa keracunan.

Situasi serupa juga terjadi di SDN 1 Asem. Sebagian siswa sudah sempat mencicipi hidangan yang dinilai berbau dan berasa tidak normal, terutama pada bagian sayuran. Menurut petugas sekolah, Hamid, dari lebih dari 300 porsi makanan yang dikirim, banyak yang tidak habis dimakan karena baunya tak sedap.

Pengelola dapur MBG Asem, Atim Affandi, mengakui insiden tersebut dipicu genangan air akibat selokan mampet setelah hujan deras. Ia menegaskan masalah sudah diperbaiki dan makanan yang bermasalah langsung diganti agar tidak menimbulkan dampak kesehatan bagi siswa.

Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Lebak, Asep Royani, mengakui bahwa dapur MBG di Desa Asem memang belum sepenuhnya memenuhi standar teknis dan higienis. Ia memastikan evaluasi dan pengawasan akan terus diperketat demi menjamin keselamatan siswa penerima manfaat program MBG.

Kasus ini semakin menambah panjang daftar masalah MBG yang belakangan dilanda insiden keracunan massal. Data Badan Gizi Nasional (BGN) per 22 September 2025 mencatat sebanyak 4.711 orang terdampak di seluruh Indonesia. Rinciannya, 1.281 orang di Sumatra, 2.606 orang di Jawa, serta 824 orang di Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah timur Indonesia.

Dari total 45 kasus, yang tertinggi terjadi di SPPG Coblong, Kota Bandung dengan 320 korban, serta SPPG Banggai, Kepulauan Tingangkung, dengan 339 korban. Menyikapi hal itu, BGN telah menutup 20 SPPG sejak 14 September 2025 di berbagai daerah, termasuk Bandung Barat, Garut, Tasikmalaya, Banggai, hingga wilayah Indonesia timur.

Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan penutupan dilakukan karena ada SPPG yang tidak memiliki sertifikasi laik higiene dan sanitasi (SLHS) serta terbukti menimbulkan kasus keracunan. Ia menambahkan, langkah tegas ini diambil demi keselamatan siswa sekaligus memperbaiki standar pelaksanaan program MBG.


Editor : Firda Rachmawati