Hotel Bermunculan, Okupansi Tertekan

HUKUM ekonomi dasar sedang berlaku kejam di Kabupaten Cirebon. Pasokan kamar melonjak tajam namun pelancong yang menginap melandai.

Hotel Bermunculan, Okupansi Tertekan
ANOMALI: Industri perhotelan di Kota Cirebon menghadapi tekanan seiring bertambahnya pembangunan hotel baru dan melemahnya pergerakan wisatawan

Oleh : Maman Suharman

Dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Cirebon tumbuh pesat. Gedung-gedung baru menjulang, menawarkan konsep minimalis, Instagramable, hingga fasilitas pintar yang memikat wisatawan muda.

Kehadiran hotel-hotel baru ini membuat kota seluas sekitar 37 kilometer persegi ini tampak semakin semarak. Namun sebenarnya, ada ironi yang tak terelakan. Pada Juli 2026, rata-rata tingkat hunian kamar hotel hanya mencapai 45,09 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon, Samiran mengatakan, kehadiran hotel-hotel baru akan menambah kapasitas kamar sekaligus memperketat persaingan bisnis akomodasi.

“Hotel baru akan menambah persaingan bisnis akomodasi di Kota Cirebon,” kata Samiran dalam rilis Berita Resmi Statistik.

Menurutnya, persaingan tidak hanya dipengaruhi oleh pertambahan jumlah hotel. Kondisi ekonomi dan harga yang belum stabil turut membatasi aktivitas perjalanan masyarakat ke luar daerah.

“Persaingan, ketidakstabilan harga, dan kondisi ekonomi memengaruhi perjalanan wisata masyarakat,” ujarnya.

Tekanan terhadap bisnis perhotelan terlihat dari tingkat penghunian kamar pada Juli 2026 yang berada di angka 45,09 persen. Artinya, dari setiap 100 kamar yang tersedia, hanya sekitar 45 hingga 46 kamar yang terisi.

“Dari 100 kamar yang tersedia, hanya sekitar 45 sampai 46 kamar yang terisi,” kata Samiran.

Angka tersebut merupakan gabungan tingkat hunian hotel berbintang dan nonbintang. Dibandingkan Juni 2026, okupansi hotel pada Juli turun 3,38 poin. Penurunan juga terjadi apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pelemahan sektor akomodasi berjalan seiring dengan turunnya perjalanan wisatawan nusantara atau Wisnus. BPS mencatat sebanyak 238,24 ribu perjalanan Wisnus di Kota Cirebon pada Juli 2026.

Jumlah tersebut merosot 7,73 persen dibandingkan Juli 2025. Sementara secara bulanan, perjalanan Wisnus turun 5,7 persen dibandingkan Juni 2026.

Secara kumulatif, perjalanan Wisnus sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat sekitar 1,7 juta perjalanan. Angka itu turun 3,38 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai sekitar 1,8 juta perjalanan.

“Januari sampai Juli 2025 tercatat sekitar 1,8 juta perjalanan wisatawan nusantara,” ujarnya.

BPS menilai selisih secara kumulatif memang belum terlalu besar. Namun, penurunan tersebut menjadi sinyal yang perlu diperhatikan karena menunjukkan melemahnya mobilitas wisatawan menuju Kota Cirebon.

Penghitungan perjalanan Wisnus dilakukan menggunakan mobile positioning data. Data tersebut bersumber dari pergerakan telepon seluler masyarakat yang diolah untuk mengidentifikasi aktivitas perjalanan wisata.

Dia menambahkan, bertambahnya jumlah hotel di tengah penurunan perjalanan wisatawan membuat pelaku industri akomodasi menghadapi persaingan semakin ketat. Terlebih, tingkat hunian kamar belum merata dan masih banyak bergantung pada akhir pekan serta masa liburan. (bsf)


Editor : Inilahkoran