Identifikasi 10 Titik Rawan Bencana, BPBD Cimahi Ingatkan Warga Waspada Cuaca Ekstrem

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi telah mengidentifikasi sebanyak 10 titik rawan bencana yang membutuhkan waspada serius dari masyarakat

Identifikasi 10 Titik Rawan Bencana, BPBD Cimahi Ingatkan Warga Waspada Cuaca Ekstrem
istimewa

INILAHKORAN.ID – Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi telah mengidentifikasi sebanyak 10 titik rawan bencana yang membutuhkan kewaspadaan serius dari masyarakat.

Pemetaan tersebut dilakukan guna mengantisipasi peningkatan potensi cuaca ekstrem yang berisiko memicu bencana hidrometeorologi dan geologi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fitriandy Kurniawan mengatakan, titik-titik rawan tersebut tersebar di beberapa kelurahan dengan ancaman yang beragam, mulai dari gempa bumi, banjir dan genangan, hingga tanah longsor.

"Setiap wilayah memiliki potensi bencana yang berbeda, sehingga masyarakat perlu memahami risiko di lingkungan masing-masing," kata Fithriandy, Senin 2 Februari 2026.

Untuk ancaman gempa bumi, kawasan berdekatan dengan Sesar Lembang menjadi fokus perhatian, dengan Kelurahan Cipageran termasuk dalam zona yang terdampak langsung oleh aktivitas sesar tersebut.

Sementara itu, ungkap Fithriandy, potensi banjir dan genangan kerap terjadi di Kelurahan Melong serta kawasan limpasan Sungai Cigugur.

"Kondisi topografi dan sistem drainase yang belum optimal membuat daerah ini rawan tergenang saat intensitas hujan tinggi," ujarnya.

Kemudian, lanjut Fithriandy, untuk wilayah Cireundeu dan Cigugur Tengah diklasifikasikan sebagai daerah dengan potensi tanah longsor cukup tinggi, yang risikonya meningkat drastis pada musim hujan akibat kondisi tanah yang labil.

Pihaknya pun tak memungkiri, proses relokasi warga di zona longsor tidak dapat dilakukan secara instan, karena membutuhkan koordinasi lintas sektor serta tahapan administratif dan sosial yang panjang.

"Kita fokus pada edukasi dan imbauan kepada masyarakat. Relokasi sendiri memiliki mekanisme dan kewenangan yang harus ditempuh melalui proses yang sesuai," jelasnya.

Tak cuma itu, pihaknya juga memberikan perhatian pada kelompok rentan seperti lansia, janda, dan warga dengan keterbatasan fisik, yang membutuhkan pendampingan ekstra untuk menekan risiko korban jiwa.

"Pemahaman risiko dan kesiapsiagaan warga menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak bencana, karena tidak semua ancaman dapat dicegah namun bisa diminimalkan melalui mitigasi yang tepat," bebernya. ***


Editor : JakaPermana