Imbas Kenaikan Harga Pertamax, Pengendara di Cimahi Mulai Beralih ke Pertalite
Hari kedua imbas kenaikan harga Pertamax banyak pengendara di CImahi yang berailh ke Pertalite dan penjualan Pertamax menurun
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang diberlakukan secara mendadak pada Rabu (10/6/2026) malam terus menuai reaksi beragam dari pengendara di wilayah Cimahi.
Pasalnya, harga yang melonjak cukup signifikan sebesar Rp3.950 per liter menjadi Rp16.250, membuat sebagian besar pengguna beralih ke jenis BBM lain, meski pengumumannya dianggap datang secara tiba-tiba dan tanpa bocoran sebelumnya.
Pengawas SPBU Cibabat, Andriansyah mengaku informasi kenaikan harga baru diterima pihaknya sekitar pukul 22.00 WIB dan baru resmi ditetapkan pada pukul 23.00 WIB untuk berlaku mulai pukul 00.00 WIB.
Menurutnya, kondisi ini berbeda dengan kebiasaan yang selama ini berlaku, di mana perubahan harga biasanya diumumkan secara teratur setiap tanggal 1 atau 15 setiap bulannya.
“Ini benar-benar seperti serangan fajar. Kami selaku pengelola SPBU aja baru dapat info larut malam kemarin, padahal biasanya ada pemberitahuan jauh hari sebelumnya," kata Andriansyah, Kamis (11/6/2026).
Lantaran pemberitahuan yang mendadak, kata Andriansyah, kemarin sempat tidak terlihat antrean panjang kendaraan di SPBU pada malam sebelum kenaikan diberlakukan, berbeda dengan pola yang sering terjadi saat ada isu kenaikan harga.
Namun, situasi berubah drastis saat operasional pagi hari dimulai. Terlihat penurunan pembelian Pertamax yang cukup tajam, sementara permintaan terhadap Pertalite justru meningkat.
“Biasanya dalam satu shift penjualan Pertamax mencapai 3.000 liter, hari ini turun menjadi sekitar 2.000 liter. Sebaliknya, pembelian Pertalite naik sedikit. Banyak pengendara yang mengetahui kenaikan harga langsung memutuskan beralih, meski ada juga yang tetap setia menggunakan Pertamax karena pertimbangan kondisi kendaraan,” jelasnya.
Menurutnya, perpindahan ini bahkan terlihat pada kendaraan berkapasitas mesin besar. Meski sempat beredar informasi bahwa kendaraan tertentu dilarang menggunakan Pertalite, Andriansyah menegaskan, hal itu belum memiliki dasar aturan resmi.
Sebab, selama kendaraan tersebut terdaftar dan memiliki kode akses sistem, pengisian tetap dapat dilakukan.
“Kami hanya mengarahkan agar menggunakan BBM yang sesuai spesifikasi kendaraan demi menjaga performa mesin, namun kami tidak bisa menolak jika pengguna tetap meminta dan datanya tercatat dalam sistem,” ujarnya.
Kenaikan harga yang terjadi di luar jadwal rutin ini, menurut Andriansyah, berkaitan dengan kewenangan penetapan yang tidak sepenuhnya berada di tangan Pertamina.
"Berbeda dengan BBM non-subsidi lainnya yang perubahannya bisa dilakukan secara berkala, penyesuaian harga Pertamax memerlukan persetujuan lebih lanjut, sehingga terkadang diberlakukan secara mendadak," ucapnya.
Di sejumlah SPBU lain di wilayah Cimahi seperti Cimindi dan Cilember, pantauan di lapangan menunjukkan pola yang serupa. Jalur pengisian Pertalite terlihat lebih ramai dibandingkan Pertamax.
Editor : Ahmad Sayuti

