Inflasi Kota Bandung Terjaga di Bawah 1 Persen, Daya Beli Warga Jadi Tantangan Baru
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mencatat keberhasilan, dalam mengendalikan laju inflasi hingga berada di bawah rata-rata 1 persen.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mencatat keberhasilan, dalam mengendalikan laju Inflasi hingga berada di bawah rata-rata 1 persen.
Namun di balik capaian tersebut, muncul tantangan baru yang kini menjadi perhatian utama yakni rendahnya daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, meskipun secara angka inflasi menunjukkan kondisi yang stabil. Persepsi masyarakat terhadap harga barang masih tinggi. Hal itu, menunjukkan tekanan ekonomi belum sepenuhnya mereda di tingkat rumah tangga.
“Yang perlu kita khawatirkan dan walaupun kita berhasil mengendalikan inflasi sampai rata-rata itu di bawah 1 persen, tetapi ternyata daya beli masyarakat masih kecil. Terbukti dari persepsi masyarakat yang mengatakan, barang-barang masih terasa mahal,” kata Farhan, Sabtu (18/4/2026).
Dia menjelaskan, secara statistik kenaikan harga yang terjadi tergolong sangat rendah yakni di bawah 1 persen. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk membuat masyarakat merasa harga kebutuhan sehari-hari menjadi lebih terjangkau.
“Nah pada kenyataannya kenaikannya cuma kurang dari 1 persen, tetapi terasa mahal. Kenapa? karena daya beli masyarakat belum kembali seperti ke masa sebelum Covid-19,” ucapnya.
Farhan menilai, situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. Di satu sisi, terdapat sejumlah capaian positif dalam pengendalian inflasi. Namun di sisi lain, masih ada pekerjaan rumah besar dalam memulihkan daya beli masyarakat.
“Nah ini tantangan-tantangan yang kita hadapi, beberapa capaian yang baik kita sangat bersyukur. Tapi pada saat bersamaan ada tantangan yang kita hadapi,” ujar dia.
Pihaknya menambahkan, kondisi tersebut menjadi gambaran nyata yang membantu pemerintah dalam menentukan arah kebijakan ke depan. “Nah, ini sebuah gambaran yang sangat real buat saya. Artinya kita ini sudah jelas arahnya mau ke mana saja yang mau kita perbaiki,” tandasnya.***
Editor : JakaPermana

