Infrastruktur Melaju, Lapangan Kerja Menunggu

PEMBANGUNAN terus melaju, tetapi pekerjaan belum bertambah. Jawa Barat ditantang mengubah infrastruktur menjadi kesejahteraan.

Infrastruktur Melaju, Lapangan Kerja Menunggu
SOROTAN GUBERNUR: Kemajuan pembangunan infrastruktur di Jabar belum berbanding lurus dengan penurunan angka pengangguran. Kondisi tersebut menjadi sorotan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Oleh: Yuliantono

Jalan-jalan baru terus dibangun. Jaringan listrik diperluas, konektivitas diperbaiki, dan berbagai infrastruktur tumbuh di sejumlah wilayah Jawa Barat.

Namun, di balik deretan pembangunan fisik itu, ada pertanyaan yang belum selesai: apakah kemajuan infrastruktur sudah benar-benar membuka lebih banyak pekerjaan bagi warga? Pertanyaan tersebut menjadi perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Menurutnya, pembangunan tidak seharusnya berhenti pada perubahan wajah daerah. Infrastruktur harus mampu menggerakkan ekonomi sekaligus menghadirkan pekerjaan.

“Banyak yang menyampaikan bahwa di Jawa Barat pembangunan infrastrukturnya sudah lebih baik dibanding dulu. Tetapi angka penganggurannya masih tinggi,” ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Selasa (11/8).

Bagi Dedi, jalan, jaringan energi, dan fasilitas pendukung lainnya seharusnya menjadi pintu yang menghubungkan masyarakat dengan kesempatan ekonomi.

Ketika sebuah proyek infrastruktur berjalan, roda ekonomi sebenarnya ikut bergerak. Ada pekerja konstruksi yang mendapatkan penghasilan, sopir yang mengangkut material, pemasok yang mendapat pesanan, hingga tenaga profesional yang terlibat dalam perencanaan.

“Ini juga melahirkan perputaran ekonomi. Ada sopir, ada kuli, ada tukang, ada arsitek, ada perencana, dan sejenisnya. Kemudian yang kedua, dengan dibangunnya infrastruktur maka investasi akan mudah,” ucapnya.

Dampak yang lebih besar, menurut Dedi, muncul ketika infrastruktur berhasil menarik investasi. Investor membutuhkan akses jalan yang baik, listrik yang tersedia, jaringan komunikasi yang terhubung, hingga pasokan air bersih dan gas.

Semakin lengkap infrastruktur pendukung, semakin besar pula peluang dunia usaha masuk dan membuka kegiatan ekonomi baru.

“Karena investasi itu akan datang manakala jalan tolnya baik, listriknya terkoneksi, jaringan telekomunikasinya terkoneksi, jaringan pipa gasnya terkoneksi, jaringan air bersihnya terkoneksi. Nah ini akan menumbuhkan investasi. Dengan adanya investasi maka orang akan bekerja,” katanya.

Tetapi investasi tidak otomatis berarti warga sekitar akan menjadi pekerja. Ada satu syarat yang harus dipenuhi: kesiapan sumber daya manusia.

Jika industri membutuhkan tenaga dengan keterampilan tertentu sementara masyarakat lokal belum memiliki kompetensi tersebut, lapangan kerja yang muncul justru bisa diisi pekerja dari luar daerah.

Karena itu, pendidikan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan infrastruktur dan investasi.

Dedi mendorong pemerintah menyiapkan sekolah yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan dunia industri. Lulusan sekolah diharapkan tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga keterampilan yang sesuai dengan pekerjaan yang tersedia di daerahnya.

(gin)


Editor : Inilahkoran