Ini Kata Dedi Mulyadi Soal Tingginya Angka Kemiskinan di Jabar yang Disinggung Mendagri

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi angkat bicara, soal pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, terkait tingginya angka kemiskinan di Jabar.

Ini Kata Dedi Mulyadi Soal Tingginya Angka Kemiskinan di Jabar yang Disinggung Mendagri
Dedi Mulyadi menjelaskan, apa yang dimaksud Mendagri Tito adalah angka kemiskinan pasti paling tinggi di Pulau Jawa dan Jabar sebagai penyumbang terbesarnya, lantaran jumlah penduduknya lebih dari 50 juta jiwa. (yuliantono)

INILAHKORAN, Bandung - Gubernur Jabar Dedi Mulyadi angkat bicara, soal pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, terkait tingginya angka kemiskinan di Jabar.

Dedi Mulyadi menjelaskan, apa yang dimaksud Mendagri Tito adalah angka kemiskinan pasti paling tinggi di Pulau Jawa dan Jabar sebagai penyumbang terbesarnya, lantaran jumlah penduduknya lebih dari 50 juta jiwa.

"Karena penduduknya banyak. (Penduduk) Lima juta dengan 50 juta kan beda," kata Dedi Mulyadi di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa 20 Mei 2025.

Meski tingginya angka kemiskinan karena jumlah penduduknya juga tinggi kata dia, bukan berarti Pemprov Jabar berpangku tangan.

Sejumlah program disiapkan, termasuk mitigasi salah satunya larangan study tour bagi siswa sekolah.

"Ini loh, saya melarang study tour itu bagian untuk menyelesaikan problem kemiskinan. Saya melarang perpisahan dengan biaya mahal, saya menyelesaikan problem kemiskinan," kata dia.

"Saya melarang wisuda-wisudaan, itu bagian dari menyelesaikan problem kemiskinan, karena kemiskinan itu. Bukan hanya orang mengalami rendahnya pendapatan, kemiskinan terjadi karena besarnya beban pengeluaran," imbuhnya.

Maka dari itu, Pemprov Jabar sambung dia berusaha melakukan mitigasi menekan beban pengeluaran masyarakat.

"Sehingga pendapatannya menjadi cukup untuk kehidupan," kata dia.

Tugas pemerintah lanjut dia, membantu dengan meringankan beban kesehatan, pendidikan dan pungutan.

"Kemudian berikan ruang pekerjaan yang luas, kemudian juga atur kelahirannya secara baik, sehingga anak, 
keluarganya ya minimal, maksimalnya tiga, ini adalah strategi," ujarnya.

Maka dari itu, dalam menyusun APBD kata dia, yang menjadi prioritas memanfaatkan anggaran untuk masyarakat.

"Strategi ini harus dilihat dari konsep cara berpikir saya. Saya berpikir itu dari dulu, ketika nyusun pendapat belanja negara, belanja daerah, itu tidak pernah berpikir dulu pendapatan daerah. Saya berpikir pengeluaran daerah dulu," tandasnya. 


Editor : Doni Ramdhani